“Kalian santri?” akhirnya ia mengeluarkan sebuah kalimat.
“Iya, Mas, tapi baru masuk jadi ilmunya masih sedikit. Sekarang lagi balik kampung. Mumpung pondok lagi libur,” Jelas pemuda yang dipanggil Min.
Mendengar itu, ia teringat masa-masa ia masih semangat belajar ilmu agama. Saat dahulu masih di pondok ia juga sering seperti ini. Datang ke masjid sebelum azan berkumandang. Bercengkrama dengan santri lain selepas zikir malam. Hingga terpekur takzim saat muazzin mulai mengumandangkan panggilannya.
Perlahan, air matanya mengalir. Ia teringat, setelah dewasa ia justru lebih banyak menghabiskan waktu di warung remang-remang sambil menunggu pagi datang. Ketakziman menunggu azan ia tukar dengan kenikmatan adrenalin saat membuka kartu bersama teman-temannya. Ia malu, entah kepada siapa.
Beberapa orang ja maah datang menjelang azan shubuh. Kardi menyalami mereka sembari memperkenalkan namanya. “Wah, tadinya kami pikir shalat Shubuhnya ndak jadi karena Pak Haji sakit. Untung ada Mas Kardi,” tukas salah seorang jamaah. Kardi tersenyum,namun di dalam hatinya, ucapan bapak tadi semakin membuatnya tidak enak hati untuk menolak menjadi imam. Bagaimana nanti tanggapan orang-orang ini kalau dia mengaku sebagai orang yang baru saja pulang berjudi dan mabuk di warung remang-remang ujung hutan.
Paijo berdiri, bersiap-siap untuk mengumandangkan azan. Semua orang terdiam saat Paijo mulai melantunkan panggilan suci itu. Kata demi kata yang diucapkan Paijo, dijawab dengan takzim dalam setiap hati para jama’ah seperti tuntunan baginda Rasul.
Namun tidak ada yang menyadari bahwa Kardi terlihat semakin gelisah. Keringat dingin membasahi keningnya. Pikirannya tidak lagi fokus pada lantunan azan. Matanya terpejam sementara bibirnya bergerak mencoba mengingat urutan shalat dan bacaan-bacaan yang pernah dihafalnya dahulu. Ia baru tersadar saat Paimin menepuk pundaknya. “Monggo Mas!” ucapnya sembari mengarahkan jempolnya ke arah tempat imam.