Kardi melangkah dengan lemas. Jikalau ada yang memperhatikan, lututnya bergetar dibalik celana hitamnya. Sementara jama’ah segera merapikan barisan mereka. Kardi menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya, berharap dia tidak lupa di tengah jalan. Saat dia hendak mengangkat tangan, saat itu pulalah terdengar suara langkah kaki dan suara orang tua terbatuk-batuk. Kardi menoleh ke belakang, diikuti oleh para jama’ah.
“Alhamdulillah, tadinya saya khawatir ndak ada yang jadi imam shalat,” lelaki tua itu terkekeh-kekeh. Dari penampilannya, Kardi menduga bahwa itu pasti Pak Haji yang biasa menjadi imam shalat.
“Pak Haji? Monggo, Pak, bapak saja yang imam,” Kardi senang bukan kepalang dapat terhindar dari tugas menjadi imam ini. Para jama’ah juga tidak ada yang menolak ketika Kardi mundur dan Pak Haji mengambil alih tempatnya.
Pagi itu menjadi shubuhnya yang pertama setelah bertahun-tahun lamanya. Andai mereka menyadari, para malaikat rahmat tengah mengelilingi musholla kecil itu untuk berdoa agar Allah mengampuni orang-orang di dalamnya. Ketenangan perlahan menyusup ke dalam hati Kardi.
Seusai shalat, para jama’ah saling bersalaman. Paijo dan Paimin mencium tangannya saat bersalaman, Kardi teringat bahwa tangan itu penuh dosa yang ia gunakan untuk mengangkat kartu dan menuang tuak. Kemudian Kardi menyalam Pak Haji. “Semoga Allah memberkahimu, Nak! Tinggalkanlah minuman keras dan judi itu. Kau akan diterima disini.” Kardi terkejut mendengar bisikan Pak Haji itu. Namun ia tak ingin bertanya dari mana Pak Haji mengetahui kebiasaan buruknya. Ia setuju dengan orang tua itu. Besok ia akan kembali kesini, untuk kembali duduk takzim menunggu pagi.
Penulis merupakan anggota FLP Yogyakarta dan merangkap menjadi mahasiswa Tekhnik Mesin UGM.