Perempuan yang Memeluk Sunyi

Tapi waktu bergulir seperti bulir-bulir air di daun talas. Waktu gegas sekali pergi, sepuluh tahun usia pernikahan itu, rahimku masih saja belum terisi. Aku mulai cemas, dan ragu dengan keadaan tubuh sendiri. Benarkah aku mandul? Atau justru lelakiku itu yang tak bisa membuahi rahimku?

Aku menelan bulat-bulat pikiran itu. Sebisa mungkin aku tak berpikir tentang hal-hal yang hanya akan menimbulkan pertikaian di antara kami. Diam-diam, aku masih meminum segala macam ramuan penyubur kandungan. Apa saja kata orang tentang kesuburan seorang calon ibu, aku lakukan. Segala hal, aku lakukan demi dia, lelakiku yang bersabar menjaga hubungan kami selama puluhan tahun, meski bayi tak kunjung datang.

“Apa belum ada tanda-tanda kau mengandung? Seharusnya kau periksa ke dokter kandungan,” ujarnya suatu malam selepas kami makan di luar.

“Belum ada tanda-tanda, seharusnya aku memang konsultasi dengan dokter kandungan saja. Abang mau antar?”

Aku harus menunggu sekian menit untuk mendapatkan jawaban darinya.

“Periksalah sendiri. Aku sibuk sekali. Banyak pesanan mebel yang harus aku selesaikan.”

Aku tak pernah memaksanya dalam sesuatu hal. Tatkala dia tak bisa melakukannya, aku bisa menerima. Bagiku, tak bisa mengantarku ke dokter adalah hal biasa. Meski setelah periksa, aku mendapatkan kepastian bahwa rahimku tak bermasalah. Kabar itu kusampaikan pada lelakiku secepatnya. Wajahnya yang mengerut ketika mendengar laporan itu, membuatku bertanya-tanya.

“Kalau kau sehat? Lalu kenapa kita belum memiliki anak?”

Mendengar pertanyaannya, aku menghela napas perlahan. Sungguh aku sendiri juga tak tahu, kenapa kami berdua belum juga dikaruniai seorang anak.

“Anak itu ‘kan berkat, Bang. Berkat dari Tuhan untuk sepasang suami istri. Kalau Tuhan belum berkehendak, mana mungkin kita memaksakan kehendak?”

“Tapi usia pernikahan kita semakin bertambah. Kau pun semakin menua. Orangtuaku selalu menanyakan tentang anak. Kau tahu ‘kan? Betapa pentingnya keturunan bagi mereka?”

“Kenapa abang tak periksa juga? Jangan-jangan abang yang bermasalah. Toh, laporan kesehatanku baik-baik saja.”

Arsip Cerpen di Indonesia