Perempuan yang Memeluk Sunyi

“Ibumu itu, mendapatkanmu dengan penebusan, Rima. Setelah sebelumnya, ayahmu mencari perempuan lain untuk menanam janin di rahimnya. Ayahmu Rima, dia memiliki perempuan simpanan yang melahirkan anak pertamanya. Anak yang lahir sebelum kelahiranmu. Kau memiliki seorang kakak, Rima…”

Aku menggigil mendengar cerita Wak Daulai. Aku memiliki seorang kakak?

“Selepas ibumu mengetahui serongnya ayahmu itu, dia melakukan penebusan. Dia berendam di Telaga Ajibarang pada malam ke limabelas sehari semalam. Di sanalah, dia mencari berkatnya yang hilang. Tak berselang lama, dia mengandung.”

“Lalu apa yang harus dibayar ibu untuk mendapatkan diriku, Wak Daulai?”

“Nyawanya, Rima. Ibumu menebusmu dengan nyawanya sendiri,” Wak Daulai meneguk tehnya beberapa kali sebelum melanjutkan. “Apa kau tahu, Rima? Bahwa suamimu pun melakukan hal yang sama seperti ayahmu. Aku mengetahuinya sejak lama. Diam-diam, dia telah memiliki seorang anak dari perempuan lain. Tanpa sepengetahuanmu.”

Selama perjalanan pulang, aku memikirkan cerita Wak Daulai. Tak kusangka, bahwa darah milik ibu yang menetes di tubuhku, membawa kesengsaraan yang serupa. Lebih tak kusangka lagi, ternyata lelakiku itu bermain dengan perempuan lain. Pantas saja dia amat berang saat kuminta periksa ke dokter.

Aku sampai di rumah sudah larut malam. Lelakiku telah tidur pulas. Diam-diam aku berbaring di sampingnya. Bagaimana mungkin, lelakiku ini tega menusukku dari belakang? Bahagiakah dia dengan anaknya dari perempuan lain itu?

***

Air di Telaga Ajibarang terlihat demikian tenang. Warnanya yang hijau tua terlihat begitu dalam. Aku memejamkan mata. Sekarang malam kelima belas, waktu yang sesuai untukku mencari berkat yang hilang. Aku akan menjalani penebusan seperti ibu. Demi memertahankan lelakiku, aku ingin memberikan dia keturunan, layaknya perempuan lain.

Akan tetapi sebelum sempat aku merendamkan tubuh ke dalam telaga, bayangan lelakiku sedang bergumul dengan perempuan lain yang memberikan keturunan untuknya, mengacau pikiranku. Dengan gelisah aku membuka mata. Haruskah aku melakukan penebusan dengan nyawaku, hanya demi lelaki yang menodai perkawinan kami? Bukankah pencapaiannya sebagai lelaki sudah ia dapatkan meski dari perempuan lain? Aku merasa gamang. Perlahan aku mundur, dan meninggalkan telaga bahkan sebelum malam kelima belas menyentuh ujungnya.

Arsip Cerpen di Indonesia