Selepas malam kelima belas di telaga itu, aku membiarkan lelakiku pergi menemui hidupnya yang lain. Dengan kerelaan yang ganjil, aku menyerahkan dirinya kepada perempuan lain. Perempuan yang telah memberinya seorang bocah perempuan. Bocah yang seperti cermin diriku saat kanak dulu.
“Kau begitu baik, Rima. Membiarkan aku memiliki anakku,” ujar lelakiku saat aku membiarkannya pergi.
“Aku ingin kau merasakan hidup seperti lelaki lainnya. Tapi kau harus tahu, anakmu akan serupa nasibnya denganku. Dia akan kehilangan berkatnya sebagai seorang ibu saat dewasa nanti. Kesengsaraan yang aku pikul, akan pula ia rasakan. Pergilah, temuilah perempuan dan anakmu.”
Dengan perlahan aku menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Lelaki yang dulu menjadi lelakiku masih terdiam di depan pintu. Wajahnya sepucat tembok. Tapi aku tak peduli. Perlahan aku menikmati kesunyian baru, yang dibangun dari sakit hati kepada lelaki yang dulu menjadi lelakiku itu. (*)
Salatiga, Agustus 2017.
Artie Ahmad. Lahir dan menetap di Salatiga, Jawa Tengah.