Aku tak menyangka, ucapanku mengundang amarahnya. Matanya yang senantiasa bersorot lembut itu memberang seketika. Rahangnya mengejang. Tangannya terkepal erat.
“Kau kira aku ini mandul?!” suaranya menggelegar.
“Bukan begitu, Bang. Tapi kalau aku sehat, mungkin ada masalah di abang.”
Lelakiku tak menjawab. Kedua matanya menatap dengan bengis.
“Percuma saja aku berdebat denganmu. Kau perlu tahu, aku tidak mandul. Kau itu yang tak diberkati seorang keturunan. Masalahnya ada padamu!” ujarnya sembari berlalu.
Sepeninggal dirinya, aku menatap kosong pada cermin di kamar. Benarkah aku perempuan yang tak diberkati seorang keturunan?
***
Nama Wak Daulai mampir di kepala di sela kegelisahan lantaran pertengkaranku dengan lelakiku. Mungkin Wak Daulai tahu, kenapa aku belum juga diberi keturunan. Sejak kematian ibuku, Wak Daulai yang mengasuhku. Tanpa pikir panjang, sore itu, aku ke rumah Wak Daulai. Demi nasib pernikahanku dengan lelakiku, aku ingin tahu alasan kenapa aku tak jua diberi berkat berupa jabang bayi.
Rumah Wak Daulai berada di pinggiran kota. Halamannya dipenuhi kebun kangkung dan beberapa jenis sayur lain. Rumah berwarna cerah dengan jendela-jendela kaca yang senantiasa dijaga kebersihannya. Dengan hati sedikit gamang, aku melangkah masuk. Wak Daulai terlihat lebih muda dari umurnya yang sebenarnya. Wajahnya yang ledang tampak menawan dalam kesenjaan usia.
“Kenapa kau datang ke mari, Rima?” tanyanya selepas kami saling bertukar kabar.
“Wak tahu? Sudah sepuluh tahun aku menikah, tapi belum juga diberi keturunan. Entah dari mana dia tahu, lelakiku itu menyebut bahwa aku ini tak diberkati menjadi seorang ibu,” ucapku perlahan di sela sabak tertahan.
Wak Daulai tak kunjung menjawab. Matanya seolah menerawang.
“Kau itu seperti ibumu, Rima. Dulu, dia juga amat terlambat memiliki dirimu. Berpuluh tahun menikah, dia tak kunjung memiliki keturunan,” suara Wak Daulai terdengar demikian perlahan.
“Lalu akhirnya dia memilikiku ‘kan?”