Percakapan di Meja Makan dan Rahasia Kecil yang tak Bisa Diceritakan pada Siapa pun selain Kamu

“Pokoknya aku nggak bisa. Sori. Keputusanku sudah bulat,” terdengar suara laki-laki menjawab. Lalu suara sesuatu dihantam. Mungkin permukaan meja. Mungkin.

“Kau gila, Bang!” suara perempuan lagi. “Kau anak laki-laki. Anak sulung. Sudah kewajibanmu mengurus mereka. Dan juga hampir seluruh warisan Papa jatuh padamu. Jadi, nggak salah kalau kami menuntut kau yang mengurus mereka!”

“Albar juga anak laki-laki Papa. Bukan aku sendiri dong,” suara laki-laki pertama tadi kembali terdengar.

“Hei, Papa dan Mama gak pernah betah tinggal bersamaku. Manado terlalu jauh, kata mereka. Jadi jangan salahkan aku.” Seorang laki-laki menimpali, mungkin dia bernama Albar, yang disebut laki-laki pertama.

“Tapi belum pernah dicoba, kan? Coba sekali-kali dibawa ke Manado. Mungkin saja mereka betah.” Suara perempuan kembali terdengar, lebih berapi-api.

“Kalau mereka cuma betah seminggu, bagaimana? Aku harus cuti lagi? Ke Jakarta lagi? Jangan berharap banyak pada istriku, dia juga sibuk di kantor. Sama saja dengan Mbak Ira.”

Hening. Tak ada suara lagi.

Kau kembali berusaha tersenyum padanya. Perlahan kau suapkan sup –yang telah dingin itu—ke mulutnya, dia menggeleng. Matanya telah basah.

“Biasa,” kau berbisik, mesra. “Anak-anak. Memang suka begitu, kan?” kau meletakkan kembali sendok ke dalam mangkuk sup. Mengusap air mata di pipinya, lalu kau kecup satu per satu kelopak matanya. Dia memejam. Kau jadi teringat hari-hari awal penikahan kalian, begitu hangat, begitu menyenangkan, seolah-olah kalian akan abadi di sana. Tak menua.

“Tedi dan Albar sering berkelahi gara-gara rebutan mobil-mobilan. Ira suka ngambek kalau kau lupa membelikannya martabak Carlie kesukaannya.” Kau menggenggam jemarinya. Mulutnya bergerak-gerak, seolah akan mengucapkan sesuatu, tapi stroke telah membuatnya demikian sulit bicara.

Arsip Cerpen di Indonesia