“Kau pikir cuma dirimu yang sibuk?” suara perempuan itu terdengar sinis. “Aku juga.”
“Intinya Papa dan Mama akan tinggal di mana?” si laki-laki pertama tak ingin menggubris lagi, dia sepertinya sadar, mereka akan berdebat terus sepanjang malam tanpa penyelesaian. “Nggak mungkin kan Papa dan Mama tinggal berdua di rumah ini? Nggak ada lagi yang mau jadi pembantu di sini, suster yang terakhir kita bayar sudah berhenti sebulan lalu.”
“Aku nggak bisa kalau di rumahku. Anak-anakku juga gak mau.” Perempuan itu menyahut cepat.
“Seperti kataku tadi, Manado terlalu jauh,” Tedi menyambar.
“Hah?” laki-laki pertama melongo, “edan!” dengusnya.
“Kalian mau aku bercerai gara-gara Papa dan Mama bikin kekacauan di rumahku?”
“Pertanyaan yang sama untukmu, Bang,” serangan yang telak. Laki-laki itu terdiam mendengar ucapan adik perempuannya. Di antara kesunyian yang tiba-tiba menyergap, mereka mendengar tawa tergelak dari dapur. Ketiganya saling pandang, adik perempuannya mengangkat sedikit pundak.
“Intinya apa?” dia bersedekap, menumpuh kaki kanannya di atas lutut kiri, rambut hitamnya tergerai. Matanya lurus memandang kakak sulungnya, sesekali dia melirik adik laki-lakinya yang segera melengos saat sadar dipandang.
“Bagaimana kalau Papa dan Mama kita titipkan di panti jompo saja?” laki-laki pertama mengajukan pertanyaan, kedua adiknya langsung tersenyum, semringah.
***
KAU dapat mendengar segala percakapan, pertengkaran dan mufakat yang ada di balik tirai merah marun itu. Sesekali kau tersenyum, mengerjap, mendinginkan mata yang acapkali menghangat tiba-tiba.