Kau menerawang, seakan-akan bertanya pada langit-langit ruang makan. Lampu gantung di atas meja makan bergeming. Entahlah, apa yang memaku matamu pada plafon itu. Mungkin kau ingin mencari jawaban di sana; kenapa akhir drama kalian seperti ini? Setelah masa muda yang begitu hangat dan manis, kenapa bisa akhir ceritanya seperti ini. Sayangnya, tak ada jawaban di sana. Tak ada apa-apa selain seekor cicak yang mengejar kehampaan.
***
“KALIAN yang egois. Papa dan Mama hampir enam bulan di rumahku. Dan gara-gara itu, Mbak kalian hampir menuntut cerai lantaran tak tahan dengan tingkah laku mereka.”
“Istrimu saja yang egois!” perempuan di balik tirai merah marun kembali menjawab.
“Lah, kau sendiri baru tiga bulan sudah gak tahan dengan mereka. Berak sembarangan, kencing di sofa. Harus dimandikan. Kau pikir kau tahan?!” suara laki-laki pertama kembali berdengung. “Kau bahkan menelponku yang sedang meeting dengan klien penting gara-gara Mama berak di sofa. Kau menjerit histeris karena katamu itu sofa mahal. Asli dari Jepara. Baru seminggu datang. Apa-apaan itu!”
“Siapa juga yang gak histeris pas pulang kerja lihat taik di sofanya? Dan nggak ada satu pun pembantu yang mau membersihkannya. Semua muntah! Gara-gara Papa dan Mama aku sudah tiga kali ganti pembantu. Bayangkan saja, dalam tiga bulan tiga kali ganti pembantu!”
“Lebay!” Albar menyahut.
“Lebay taikmu!”
“Sudah! Kepalaku mau pecah dengar ocehan kalian,” suara laki-laki pertama terdengar lagi. “Kalau begini terus, kita nggak akan selesai-selesai berdebat. Kerjaanku masih banyak, bukan ngurusin Papa dan Mama saja.”