Matinya Sang Penulis

“Kenapa kau selalu mengenakannya, Tuan?”

Ia pun tersenyum. Seraya membuka topi pet itu, ia mencoba untuk tak hanya menjawab pertanyaanku. Lebih jauh, ia menunjukkan betapa berharganya sebuah kenangan.

“Topi ini pemberian darinya, Yoana. Entahlah, dengannya aku merasa dekat dengan kekasihku itu. Terlebih bila aku mengenakannya di saat menulis. Bukankah menulis adalah proses mengukir kenangan, Yoana?”

“Itulah sebabnya, kau senantiasa menulis, Tuan? Karena kau ingin memetik kenangan itu kelak?”

“Hmm..hmm. Di dunia ini, hanya kenangan yang mampu abadi. Dan karenanyalah kita hidup. Namun, teramat banyak kini orang memberi kenangan berupa benda. Bagiku, kenangan adalah sebuah cara, Yoana.”

Demikianlah mungkin yang ia maksud sebuah ”cara” itu, adalah usahanya dalam belajar menulis. Kekasihnya dulu memang seorang pecinta sastra. Oleh sebab itu, ia sangat ingin agar Armanno bisa menjadi seorang penulis.

“Menulislah! Karenanya, kelak kau akan menjadi seorang yang bijaksana.” Ucap Armanno padaku, kala ia mencoba menirukan apa yang perempuannya dulu katakan padanya.

Akan tetapi, selain menyukai sastra, kekasihnya itu adalah sosok yang juga menyukai berbagai macam pengobatan tradisional. Itu semua berawal dari pertemuannya dengan seekor kucing yang nyaris buta di suatu hari. Ia pun segera membawa pulang kucing itu dan merawatnya. Satu minggu berselang, kucing itu pun akhirnya bisa melihat kembali. Sejak saat itulah, perempuan cantik itu bertekad untuk mendalami pengobatan tradisional. Karenanya, ia pun memutuskan untuk pergi ke negeri Cina guna mendalami ilmunya. Tentu dengan konsekuensi, bahwa ia harus berpisah dengan pujaan hatinya untuk beberapa lama. Tapi sayang, tahun berganti tahun, tak lagi ada berita dari perempuan itu. Yang hadir hanyalah berita ketidakpastian tentang kapal yang juga tak pernah benar-benar kembali.

Arsip Cerpen di Indonesia