Matinya Sang Penulis

Masih sangat kuingat dulu, pada saat aku datang tuk melamar pekerjaan padanya, Armanno, adalah seorang pria ringkih. Tubuhnya bungkuk. Air mukanya menyiratkan kerinduan yang teramat dalam. Namun yang mengerikan adalah, TBC akut menjelma monster pembunuh di dalam tubuhnya.

Ia teramat lama menanti. Menghabiskan waktunya dengan membaca, menulis, mengisap tembakau yang teramat pekat, juga meminum anggur kesukaannya itu. Karenanya, penyakitnya itu semakin hari semakin menyiksa. Pernah di suatu pagi, ia memanggilku dengan teramat lemahnya.

“Yoana!” rintihnya. Suara batuknya berulang tak henti. Aku pun bergegas menemuinya dan mendapati lelaki itu dalam kondisi yang memilukan. Darah segar mengalir dari mulutnya.

“Tampaknya… tak lama lag…i… aku akan ma…ti!” ucapnya, dengan nada yang terputus-putus.

“Tenanglah, Tuan! Aku akan meracik obat untukmu.” Aku pun segera menuju dapur guna memeras satu buah mengkudu matang. Setelahnya kucampur sedikit dengan parutan kunyit putih dan madu. Dan kuberikan ramuan itu perlahan pada Armanno.

Seperti itulah akhirnya keadaan laki-laki itu membaik. Namun, bila ia merasa sehat, ia akan kembali menulis. Mengisap tembakau pekatnya. Menenggak anggur kesukaannya. Melupakan obat-obatan yang semestinya ia minum.

Karenanya, waktu itu pun akhirnya datang juga dalam hidupnya.

Arsip Cerpen di Indonesia