Di satu pagi berkabut, sekembalinya aku dari berbelanja, kudapati Armanno tertidur dengan wajah dan kedua tangannya terjatuh ke meja. Flat Cap miliknya telah terhempas ke lantai. Begitupun dengan sebuah pena kesayangannya. Semakin dekat, semakin tercium pula bau darah segar itu, yang ternyata telah membasahi beberapa bagian dari kertas tulisnya. Namun, semua sudah terlambat. Lelaki itu telah pergi tuk selamanya.
Sungguh itulah hari yang memilukan. Aku kehilangan lelaki yang begitu berarti dalam hidupku. Dia, Armanno, tak hanya menjadi satu-satunya orang di Tavulia yang mau menerimaku untuk bekerja. Namun, dialah juga sosok yang tak pernah menghiraukan segala kekurangan yang selama ini aku miliki. Aku, seorang wanita dengan wajah yang teramat buruk ini.
Dan hari pun terus berganti. Dua bulan berlalu sepeninggal Armanno pergi. Tak lagi ada senyumnya. Hanyalah sehelai kertas bernodakan darah, dengan tulisan yang juga tak tuntas yang jadi peninggalannya. Aku telah menyimpannya terlebih dahulu, untuk akhirnya membaca tulisan terakhir darinya itu. Tulisan itu adalah sebuah cerita pendek. Sebuah kisah tentang penantian seorang lelaki yang ditinggal kekasihnya pergi. Sang lelaki terus menanti meski sang kekasih tak jua datang. Namun, hanya sampai bagian itu sajalah cerita pendek itu sanggup ia tulis. Tentu, TBC akut telah merenggut nyawanya, sebelum ia menuntaskan cerita tersebut.
Lama aku menanti sebelum akhirnya, seperti ada yang mendorong tanganku untuk melanjutkan kisah tersebut. Maka, segera kuraih sebuah pena dan mencoba melanjutkan kisah tersebut, yang kurang lebih seperti inilah kisahnya:
Sungguh, lelaki itu tak pernah tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi. Sebuah amukan badai telah memaksa kapal yang ditumpangi kekasihnya itu menepi ke sebuah negeri yang dipimpin oleh seorang tiran.
Alih-alih mendapat pertolongan, para penumpang di kapal itu dipaksa bekerja pada penguasa negeri itu. Para lelaki harus bekerja membangun benteng-benteng yang tinggi. Namun yang lebih memilukan, tatkala perempuan muda dipekerjakan di sebuah tempat pelacuran. Termasuk perempuan itu. Perempuan yang hadirnya selalu dinanti-nanti.