Dan dua dekade pun berlalu. Namun kecantikan sang perempuan tak juga sirna. Setua itu ia masih menjadi primadona. Karenanya, ia harus pasrah dengan kenyataan, bahwa ia tak mampu keluar dari tempat itu. Sedangkan, ia teramat rindu pada kekasihnya. Ia ingin sekali bisa kembali ke negeri asalnya. Maka, tiada henti ia berpikir dan selalu berusaha.
Sampai akhirnya, ilham itu pun datang juga.
Satu-satunya cara agar bisa keluar dari negeri itu adalah dengan mengubah wajahnya yang cantik itu menjadi buruk. Seburuk-buruknya. Karenanya, di sebuah malam yang kelam, ia memberanikan diri meracik pelbagai rempah-rempah yang berkhasiat merusak wajahnya. Keesokan, tak lagi ada yang tahu, bahwa ia adalah perempuan cantik tersebut.
Syahdan, ia pun berhasil keluar dari tempat pelacuran, bahkan beruntung berhasil kembali ke negerinya setelah menumpang kapal yang hendak menuju ke sana. Namun sesampainya ia di negerinya itu, tak lagi ia diakui oleh keluarganya sebagai perempuan yang dua dekade lalu menghilang. Satu-satunya harapan, adalah mendatangi kembali kekasihnya yang pada saat itu tampak mulai menua dan juga sakit-sakitan.
Akan tetapi, ia tak kuasa bila harus jujur. Perempuan itu tak tega bila harus menyakiti kekasihnya dengan kenyataan, bahwa ia kini tak lagi cantik. Terlebih, ia dapati lelaki itu masih selalu setia menantinya. Lalu, perempuan itu pun memohon untuk bisa bekerja padanya. Tentu, ia pun telah mengubah namanya, gaya bicaranya, dan menghilangkan semua hal yang tampaknya bisa mengingatkan lelaki itu pada kekasihnya yang telah pergi dulu. Dan singkat cerita, perempuan malang itu diterima bekerja sebagai pembantu.
Hingga, sampailah nanti di suatu pagi, di mana penyakit paru-paru telah menghentikan napas sang lelaki malang, sungguh, lelaki itu tak pernah tahu tentang siapa gerangan perempuan buruk rupa yang jadi pembantunya selama itu.