Lima orang tentara Belanda memasuki rumahnya. Mereka menjumpai Sukarni yang gelisah. Kegelisahan itu tertangkap mata para serdadu. Mereka senang karena itu berarti bertambah lagi pribumi yang tunduk. Senyum mereka melebar ketika melihat wajah cantik Sukarni.
“Cantik, dia cantik,” bisik serdadu berkumis tebal kepada rekannya.
Rekannya mengangguk setuju. Dengan langkah tak sabar, mereka mendekati Sukarni.
“Kamu cantik!” ucap seorang prajurit.
Sukarni diam, gemetar.
“Kamu harus menghibur kami,” lanjut prajurit itu sambil menarik Sukarni dari kursi. Teman-temannya membantu, lalu mereka pun memerkosa Sukarni ganti-berganti.
Di antara tawa dan desah mereka, Sukarni menangis menggerung-gerung. Tubuh dan batinnya terluka.
“Lain kali kami ke sini lagi, Cantik! Ha-ha,” ucap seorang serdadu.
Sukarni menangis tak henti-henti. Dia menyeru-nyeru nama sang suami. Sukarni ingin menangis di pelukan Kasdi, menceritakan kebiadaban yang baru saja terjadi. Namun juga takut Kasdi tahu dia tak lagi suci. Pedih, hati Sukarni pedih.
Dua hari kemudian Kasdi pulang. Awalnya Sukarni tak menceritakan soal pemerkosaan oleh serdadu Belanda. Ia takut suaminya pergi dan dia makin terguncang. Namun karena tak ingin terus-terusan membohongi Kasdi, dia pun bercerita.
“Begitulah, Mas…,” lirih suara Sukarni sambil terisak-isak.
“Bajingan! Kubunuh mereka semua!” teriak Kasdi.