Sukarni

Peristiwa tempo hari agaknya jadi titik balik kehidupan Sukarni. Dulu ia pendiam, sekarang liar. Dulu ia wanita yang pasrah, sekarang ia melawan.

Perlahan-lahan perlawanan itu pun membuahkan hasil. Banyak serdadu Belanda mati keracunan, sebagian sakit parah. Hari demi hari para prajurit yang datang menyurut. Ia pun bosan, merasa kehilangan tantangan.

Karena tak lagi banyak mangsa dan untuk menghindari penyelidikan, Sukarni memutuskan hengkang ke pusat kota. Sekarang tujuan dia bertambah: semula hanya membunuh pasukan Belanda, sekarang mengorek informasi sebanyak mungkin. Sukarni kini jadi sekspionase.

Pelan-pelan dan sembunyi-sembunyi Sukarni mengajak penduduk melawan, tentu dengan jalan berbeda. Ia membujuk para pemuda mengangkat senjata. Ia juga membagikan sebanyak mungkin informasi dari sekspionasenya.

Sukarni barangkali memang berjuang, tetapi karena melalui jalan asusila, selalu ada yang mencemooh. Namun Sukarni bergeming. Ia masa bodoh. Orang-orang boleh mengangkat parang, tombak, atau bambu runcing. Dia berhak menggunakan senjatanya sendiri.

Setelah cukup lama di kota, Sukarni berjumpa pemimpin pasukan tingkat kota, Van Brown. Itu bukan nama asli, nama samaran entah karena alasan apa. Ia melancarkan aksi seperti biasa. Kini dia memakai cara lebih halus, tanpa olesan racun ke tubuh. Dia lakukan itu semata-mata untuk mengorek sebanyak mungkin informasi dari Van Brown.

Berbekal kecantikan dan keterampilan berbahasa Belanda pasaran, Sukarni cukup mudah menaklukkan hati Van Brown. Lebih tepatnya menaklukkan nafsu berahi lelaki itu. Dia berhasil memperoleh banyak informasi. Dia bagi info itu kepada rekan-rekan seperjuangan di kampung.

Arsip Cerpen di Indonesia