Lelaki itu berlari keluar rumah sambil menggenggam parang. Sukarni mencegah, tetapi tak ia pedulikan. Kemarahan Kasdi meluap dan hanya bisa reda bila melihat serdadu yang memerkosa sang istri mati mengenaskan. Kasdi bisa membunuh seorang serdadu dan melukai dua orang lagi. Namun dia tewas, tertembak kepalanya.
Kabar tewasnya Kasdi sampai ke telinga Sukarni. Perempuan itu kini makin tak berdaya. Semua telah menghilang: kehormatan dan cinta. Batin Sukarni memedih, jiwanya makin terguncang. Apalagi setelah kematian sang suami, serdadu Belanda makin sering datang ke rumah.
Awalnya Sukarni pasrah. Ia kehilangan gairah hidup. Beberapa kali dia hendak bunuh diri. Namun suatu hari, ketika mengingat kematian sang suami, dia membuhulkan tekad untuk balas dendam.
Sukarni memikirkan cara untuk melawan serdadu Belanda. Karena tak mungkin berkelahi, dia memanfaatkan kecantikan dan tubuhnya. Sukarni pun makin rajin bersolek. Dia tak cuma membedaki wajah, tetapi juga melumuri tubuh dengan racun mematikan. Dia meracik racun tak berwarna dan tak berbau itu berdasar resep mendiang sang nenek. Jika racun itu terjilat bakal mematikan atau setidaknya membuat sang penjilat sakit berbulan-bulan.
Suatu malam, dia merias diri begitu anggun. Dia mengenakan kebaya paling bagus dan parfum paling wangi. Sukarni duduk di ruang tamu, menembang. Ketika para serdadu datang, dia membiarkan mata mereka menelanjangi tubuhnya. Mereka, para bangsat itu, terperangkap jebakan yang dia buat.
Rencana demi rencana pun ia lakukan. Ia kini rajin menggoda pasukan Belanda. Dan tepat seperti rencananya, para pemuja berahi itu pun masuk ke dalam jerat.
“Nikmati tubuhku, Setan! Nikmati! Jilat semua racun itu! Matilah kau, matilah!” Begitulah batin Sukarni setiap serdadu Belanda menggagahi tubuhnya. Sekarang tak ada lagi rasa sakit atau hina, yang ada hanya desah perjuangan.