Sukarni

Setelah merasa cukup memperoleh informasi dan muak pada mulut buaya Van Brown, Sukarni berencana membunuh dengan racun seperti dulu. Dia berhasil! Dia puas. Menang. Namun dua hari setelah keberhasilan itu, Sukarni ditangkap. Identitasnya sebagai pembunuh sekaligus sekspionase terungkap.

Sukarni terciduk. Dia diborgol dan dibawa pergi entah ke mana. Sukarni lenyap, seolah-olah tak pernah ada di bumi ini.

Berbulan-bulan setelah itu, rekan-rekan seperjuangan di kampung akhirnya tahu dia telah ditangkap dan tak mungkin bisa keluar dari cengkeraman Belanda.

Mereka bersedih. Seorang pelawan sudah pergi dan tak akan kembali. Untuk mengenang dan menghormati perempuan itulah mereka mengukir namanya di hati masing-masing. Mereka menceritakan kisah patriotiknya kepada anak-cucu.

Namanya memang tak ada di buku pelajaran, tak juga di daftar pahlawan, bahkan juga tidak di batu nisannya. Nama sederhana itu tak punya makna yang indah atau gelar kehormatan. Namun nama itu akan selalu dikenang, dihormati, segenap orang. Kisahnya akan abadi. Perlawanannya tak akan pernah mati. (44)

Sekaran, 10 Oktober 2017: 19.59

Abu Rifai, mahasiswa Sastra Inggris Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang

Arsip Cerpen di Indonesia