Sebutir Peluru dalam Salat

“Siapa pun yang mati melawan penjajah, maka syahid matinya orang tersebut. Insya Allah pahalanya surga,” tegas Kiai Bintara dengan binar-binar di matanya. Santri itu mengangguk-anggukkan kepala.

Terdengar derap-derap kaki mcncurigakan di luar langgar, rentang lampu teplok memantulkan bayangan tiga orang lelaki memegang senapan berjalan gontai, mondar- mandir di luar dengan gerak siaga. Keberadaan Kiai Bintara dianggap membahayakan bagi tentara Belanda sampai mereka terus mengawasi gerak-gerik Kiai, masuk ke dalam pesantren diam-diam.

“Apa yang mesti kami lakukan, Kiai?” Tak lebih seperti suara bisik begitu santri itu bertanya pada Kiai Bintara.

“Perang!” Hanya kata itu yang didengar para santri. Pelan Kiai Bintara berujar.

Nyai Mariyah berjalan terpincang-pincang menemui suaminya di dalam langgar. Terengah-engah ia menahan napasnya yang megap-megap. Bulan tenggelam sepenuhnva ke dalam pelukan awan. Wajahnya seperti selembar kain kafan.

“Tentara-tentara Belanda ada di mana-mana. Mereka mengawasi kita.” Setelah lama ditunggu, ucapan itu keluar dari mulut Nyai Mariyah di antara tarikan napasnya yang berat. Dalam sekejap suasana di dalam langgar jadi hening. Tidak ada suara apa pun, saling pandang satu sama lain, dan hanya terdengar suara naluri masing-masing.

“Kematian hanya Allah yang menentukan,” ucap Kiai Bintara. Kemudian ia meminta istrinya untuk kembali masuk ke rumah, tak perlu khawatir akan keselamatan Kiai Bintara. Nyai Mariyah tentu cemas, sebab ia tahu satu-satunya orang yang diincar tentara Belanda ialah suaminya.

Semakin hari santri Kiai Bintara kian bertambah saja, selain menimba ilmu juga ingin turut serta mengusir penjajah yang belum juga angkat kaki, kemasyhuran Kiai Bintara sampai ke setiap pelosok desa, dikabarkan melalui mulut ke mulut, bahwa Kiai Bintara membutuhkan orang siap mati di medan perang, mati melawan tentara Belanda yang meresahkan keberadaannya, membawa ketakutan di setiap rumah penduduk.

Arsip Cerpen di Indonesia