Sebutir Peluru dalam Salat

Akan tetapi, keganjilan yang dirasakan para santri mengenai perubahan sikap Kiai Bintara terjawab selepas magrib, di pengujung Desember kala itu. Para santri dikagetkan oleh teriakan Nyai Mariyah, disusul letusan senapan berkali-kali berasal dari kediaman Kiai Bintara. Jangan-jangan Kiai Bintara sudah dibunuh, pikiran buruk beranak-pinak dalam setiap tempurung kepala para santri, yang tergopoh-gopoh, berlari menuju kediaman Kiai Bintara.

Tidak ditemukan Kiai Bintara di sana, kecuali Nyai Mariyah sedang menangis, dengan tangan menggapai udara. Rupa-rupanya, Kiai Bintara baru saja dibawa tiga orang tentara Belanda. Para santri, Barisan Sabilillah pimpinan Kiai Bintara, bersiap merebut kembali suami Nyai Mariyah, tetapi tak diizinkan oleh Nyai Mariyah dengan alasan sebagaimana pesan suaminya, “Tahan para santri agar tidak menyerang. Saya tak ingin banyak korban. Cukup saya saja.”

Tak ada cara lain untuk menyelamatkan para santri, juga para penduduk, dari ancaman tentara Belanda, kecuali Kiai Bintara menyerahkan diri. Tidak hanya itu, Kiai Bintara melakukan itu semata karena janji para tentara Beianda untuk hengkang dari Madura jika pimpinan Barisan Sabilillah itu bersedia mati di tangan mereka. Nyai Mariyah mengetahui kesepakatan itu setelah mencuri perbincangan suaminya dengan tiga tentara Belanda itu di ruang tamu. Tangis Nyai Mariyah pecah, air matanya terurai di kedua pipinya saat Kiai Bintara dibawa tentara Belanda itu, sebab itu artinya kematian bagi suaminya.

Di lapangan Kemisan, Kiai Bintara dikepung tentara Belanda dengan moncong senapan mengarah ke sekujur tubuhnya. Kiai Bintara meminta para santri yang datang beberapa menit kemudian untuk tidak ikut campur, cukup menjadi saksi tentara Belanda menepati janji, sekaligus menjadi saksi detik-detik kematian pimpinan Barisan Sabilillah itu.

Tiga butir peluru meletus sia-sia di tubuh Kiai Bintara. Tak sedikit pun butir peluru itu sanggup untuk sekadar merobek baju yang dikenakan Kiai Bintara, apalagi menembus tubuh kebal kerempeng Kiai itu. Terlampau kesal dan hampir putus asa, tentara Belanda itu akan membunuh semua santrinya, termasuk penduduk, jika sampai Isya belum juga Kiai Bintara membocorkan letak kelemahannya.

Arsip Cerpen di Indonesia