Sebutir Peluru dalam Salat

“Tembaklah saya ketika sedang shalat, tepat saat tengah bersujud,” ucap Kiai Bintara. Tak lama setelah itu, ia mendirikan salat beralaskan rumput lapangan. Tepat pada saat Kiai Bintara bersujud, sebutir peluru menembus jantungnya. Tawa para tentara Belanda itu terbahak-bahak, lambat laun meninggalkan lapangan, juga dikabarkan besok pagi mereka segera mungkin meninggalkan Madura.

Semua santri menghampiri Kiai Bintara yang masih dalam keadaan posisi sújud. “Subhanallah, sungguh Mahasuci Allah,” kalimat ini keluar dari mulut salah seorang santri begitu mengetahui tidak ada darah di dada Kiai Bintara, hanya sebutir peluru yang bersarang di dalamnya, tepat pada jantung Kiai Bintara. ***

 

Palau Garam, April 2017

Zainul Muttaqin lahir d Ganncang, Batang-batang Laok, Batang-batang, Sumenep, Madura, 18 November 1991. Cerpen dan puisinya dimuat pelbagai media nasional dan lokal. Salah satu penulis dalam antologi cerpen Dari Jendela yang Terbuka (2013), Cinta dan Sungai-sungai Kecil Sepanjang Usia (2013), Perempuan dan Bunga-bunga (2014), dan Gisaeng (2015). Tinggal di Madura.

Arsip Cerpen di Indonesia