Sebutir Peluru dalam Salat

Latihan bela diri selalu dilakukan tengah malam. Kiai Bintara sendiri yang mengajarkan cara memukul dengan tenaga dalam. Gelagat penyusunan strategi perang tidak terlalu kentara, seolah-olah Kiai Bintara hanya mengajar mengaji para santri. Sekalipun begitu, sikap awas tentara Belanda diperhitungkan matang-matang, takut tiba-tiba Kiai Bintara bersama para santrinya menyerang markas mereka, yang berada di Desa Bragung.

Jika dipikir-pikir secara akal, tidak mungkin Barisan Sabilillah yang dipimpin Kiai Bintara menang melawan penjajah, karena mereka tidak memiliki senjata apa pun, selain doa dan tawakal kepada Allah. Para santri itu terlatih di bawah tempias cahaya bulan malam hari, dekat langgar, di balik rimbun semak-semak.

“Apa pun bisa terjadi jika Allah mengizinkan,” kata Kiai Bintara, berdiri di tengah-tengah para santri. Tentu saja mendengar perkataan semacam itu dari Kiai Bintara semakin membuat jiwa mereka bergelora, siap perang malam itu juga.

Belum juga ketua Barisan Sabilillah, Kiai Bintara, memerintahkan menyerbu markas penjajah hingga berbulan-bulan sejak latihan kanuragan dilakukan. Malah ia mulai jarang mengadakan latihan sebagaimana biasanya, tanpa ada santri yang tahu alasan apa yang membuat Kiai Bintara seakan enggan melawan tentara Belanda itu.

Kini ia hanya memusatkan perhatiannya pada pengajian Alquran di dalam langgar. Mulut Kiai Bintara bergetar, dengan wajah dibalur cemas, pikiran bercabang-cabang membuat para santri yang sedang mengaji menduga-duga telah terjadi sesuatu dengan kiai mereka. Tidak seorang pun santri menanyakan apa dan bagaimana yang sesungguhnya terjadi, terkunci rapat mulut mereka, sungkan bertanya kepada Kiai Bintara.

Sekalipun tidak lagi Kiai Bintara melatih Barisan Sabilillah, para santri itu tetap giat berlalih dalam gelap malam dini hari. Mereka percaya, sewaktu-waktu tentara Belanda akan datang membakar langgar sebagaimana terjadi lima tahun lalu, sebelum Indonesia merdeka. Tak boleh lengah. Harus siap kapan pun tentara-tentara tak berotak itu menyerang. Untuk itulah, para santri lerus-terusan berlatih meskipun tanpa Kiai Bintara.

Arsip Cerpen di Indonesia