Perempuan Tua dan Seekor Anjing

Tak lama kemudian, Nima berteriak lantang dari belakang rumah ketika perempuan tua itu sedang menjerang air. Wajah perempuan tua itu berubah seperti selembar kain kafan. Pastilah Nima menemukan anjing itu, pikirnya, sambil lalu ia menyeret langkahnya menemui Nima di ruang belakang. Teriakan Nima semakin kencang, semakin cepat pula perempuan tua itu membawa langkahnya, terpiuh-piuh ia berjalan mengenakan sandal jepit.

Wajah Nima meradang. Anjing itu bersimpuh di kakinya. Perempuan tua itu menceritakan saja yang sebenarnya. Kebencian Nima pada seekor anjing tak lagi tertakar. Ia meludahi anjing itu. Perempuan tua itu mengambil anjing kecil itu ke dalam gendongannya. Nima mengangkat kedua bahunya. Kasar langkah Nima meninggalkan rumah perempuan tua itu.

Sejak itu, Nima tidak pernah berkunjung ke rumah perempuan tua itu lagi. Empat hari kemudian, para tetangga pun tahu ada seekor anjing di dalam rumah perempuan tua. Kabar ini tersebar melalui mulut kecubung Nima. Warga kampung memandang rumah perempuan tua itu penuh selidik. Selalu setiap hari mata mereka mengintai rumah berupa gubuk di bawah kaki bukit itu.

Perempuan tua itu ke luar rumah jam tujuh lewat. Gerak kakinya terpiuh-piuh untuk sampai ke pasar. Seseorang menghentikan langkah perempuan tua itu. Wajah perempuan tua itu jatuh ke tanah. Ia beroleh pertanyaan perihal anjing yang dipelihara di rumahnya. Perempuan tua itu menganggukkan kepala, pertanda bahwa ia memang memelihara seekor anjing ras beagle. Hal itu semata-mata dilakukan demi menyelamatkan hidup si anjing. Perempuan tua itu menuturkannya dengan nada bergetar disusul derai batuk mengguncang dada ringkihnya.

“Anjing itu tak boleh kau pelihara. Anjing itu najis. Haram memelihara anjing. Haram artinya berdosa. Berdosa sama artinya neraka. Apa kamu mau masuk neraka?”

“Lebih berdosa jika saya membiarkan anjing itu mati sia-sia. Biarlah saya masuk neraka karena menyelamatkan hidup seekor anjing.” Perempuan itu kembali melanjutkan perjalanannya. Ia meninggalkan orang tadi begitu saja, tanpa peduli seperti apa raut muka orang tersebut.

Arsip Cerpen di Indonesia