Perempuan Tua dan Seekor Anjing

Hampir satu minggu ini pembicaraan warga kampung kerap bermuara pada perkara mengapa perempuan tua itu mau memelihara seekor anjing. Mereka harus bertindak. Tak boleh seorang pun memelihara anjing di kampung ini. Perempuan tua itu harus membuang jauh anjing itu ke luar kampung. Orang-orang saling pandang, menganggukkan kepala setelah menentukan hari untuk mendatangi rumah perempuan tua itu.

Menjelang sore hari, gerimis tipis serupa helai rambut liris dari langit petang yang abu-abu. Langkah gusar warga kampung menuju rumah perempuan tua itu ditingkahi angin. Perempuan tua itu membuka pintu setelah seseorang menggedor berulang-ulang. Tampak gugup suara perempuan tua menyaksikan dengan mata lamurnya sendiri orang-orang yang seakan menelan tubuhnya dengan api kebencian.

“Di mana anjing itu?” Laki-laki berwajah berewok memandang tajam wajah perempuan tua itu.

“Untuk apa mencari anjing saya?” Perempuan tua itu balik bertanya, lirih suaranya.

“Anjing itu harus dibuang atau dibunuh. Anjing itu najis. Tak boleh dipelihara. Apa kamu tidak takut berdosa?”

“Tuhan yang lebih tahu soal dosa saya.”

Tiba-tiba saja anjing itu keluar, bersimpuh di ujung kaki perempuan tua itu. Anjing itu mendongakkan wajahnya pada perempuan tua itu. Warga kampung menarik langkahnya ke belakang, khawatir terkena tubuh si anjing. Terkena liur anjing itu sama artinya tubuh warga kampung dilumuri najis. Tidak hanya itu, najisnya anjing adalah najis tertinggi, najis mugholladhoh.

Melihat rupa seekor anjing menjijikkan itu membuat warga kampung kian berhasrat untuk mengusir binatang bertubuh kecil itu. Kebencian orang-orang pada anjing piaraan si perempuan tua itu tak lagi tertakar. Dengan gerakan cepat mereka melemparinya dengan batu. Anjing menggonggong kesakitan. Tubuhnya terluka.

Arsip Cerpen di Indonesia