Perempuan Tua dan Seekor Anjing

Karena teramat mencintai anjing itu, diambillah binatang itu ke dalam pelukan perempuan tua itu. Perempuan tua itu berharap kemarahan orang-orang akan reda. Tak mungkin mereka melempari anjing yang kini berada dalam pelukannya. Akan tetapi, sore yang kian gelap tidak punya cara lembut untuk memperlakukan perempuan tua itu. Teriakan-teriakan mereka kian keras. Mereka tetap menghujani anjing itu dengan batu, kerikil, dan benda apa pun dilemparkan supaya anjing itu pergi jauh atau mati secara sia-sia di tempat itu.

Saat itulah kepala perempuan tua itu terkena hantaman batu yang terus-menerus dilemparkan warga kampung pada anjing dalam pelukannya tersebut. Tersungkur ke lantai perempuan tua itu. Darah mengucur. Anjing itu mengelus wajah perempuan tua itu. Ia menggonggong terus-menerus. Mendengar gonggongan mengerikan itu, teriakan warga kampung senyap. Wajah mereka ketakutan.

Perempuan tua menatap orang-orang itu. Tatapan seorang perempuan yang teraniaya. Tarikan napas perempuan tua itu semakin lambat dan goyah. Warga kampung tak dapat berkata apa-apa. Wajah mereka berubah seperti selembar kain kafan. Seseorang berusaha mendekati tubuh perempuan tua itu, tetapi anjing itu tak membiarkan siapa pun mendekati perempuan tua yang telah mengasuhnya selama ini.

“Anjing itu memang najis, tapi kita masih bisa membasuhnya dengan air tujuh kali dan salah satunya diberi pasir atau debu. Menganggap anjing itu najis, apa berarti kalian merasa lebih suci? Bagaimana jika hati kalian yang najis? Bagaimana cara membasuhnya?” Perempuan tua melontarkan kalimat itu menjelang napasnya berakhir. Sesaat kemudian, perempuan tua memejamkan matanya.

Arsip Cerpen di Indonesia