Sementara itu kau berpikir untuk mengganti sarung bantal dan guling. Kau pergi lagi ke kamar, ke ranjang. Kaulepas sarung bantalmu. Kau tertegun menatap wajah istrimu. Wajah itu tenang, damai. Seulas senyumnya seibarat hamparan bunga yang belum terlalu mekar. Kau memperhatikan gambar bunga di sarung bantalnya. Bunga matahari yang ternyata selama ini berukuran sangat besar. Hanya separuhnya yang tampak. Setengahnya lagi terhalang topi di kepala istrimu, di mana di dalamnya terdapat rambut yang menyedihkan.
Dulu rambut itu sangat lebat, panjang, dan juga berkilau. Istrimu rajin mengolesinya lidah buaya bergantian dengan santan kelapa yang telah diendapkan di dalam botol dan ditaruh di atap rumah pada malam hari, lalu diambil sebelum ufuk menjadi orange. Tapi lebih dari setahun ini rambut indah itu perlahan-lahan rontok. Lantai dipenuhi batang-batang rambut. Kadang ia ada di piring berisi nasi, di dalam gelas berisi air, dan itu membuat istrimu menangis sambil marah.
Ia akan menarik-narik rambutnya dan di tangannya tampak helaian-helaian yang berlepasan begitu mudahnya. Kau minta izin mengguntingnya menjadi pendek. Pendek sekali, sampai kulit kepalanya tampak. Kini, kau melihat kepala itu ditutup topi rajut berwarna hijau. Selain kuning, istrimu sangat suka warna hijau. Menenangkan jiwa ragaku, katanya ketika masih sangat sehat dan ia tak terlalu peduli bila kuku cantiknya menjadi kotor saat memindahkan batang-batang bunga ke pot yang lebih besar.
Sewaktu perasaanmu tercabik kembali mengenang hari-hari itu, istri yang di hadapanmu kini memperlihatkan separuh bunga matahari yang ditutupi topinya tadi. Kepalanya sudah turun dari bantal. Dari bagian tengah gambar bunga matahari itu melayang sebutir cahaya. Kau terkesiap, mengiranya sesosok peri. Sosok itu kemudian mengambang di atas kasur lalu bergerak-gerak mengitari tubuh istrimu.
Aroma ikan mas arsik: perpaduan antara bawang, kunyit, jahet, cabai, kucai, kecombrang, asam jawa, dan kemiri menguar. Namun, kau tidak bisa membedakan aroma apa yang paling dominan, sementara kau berharap aroma kunyit sebagaimana diminta istrimu. Tahu-tahu istrimu sudah mati. Ia telah mati beberapa detik ketika kau mengeluarkan tubuhmu dari pelukannya yang sepanjang malam, di mana saat mengecup matanya kau lupa apa ada merasakan denyutan halus di kelopak matanya.
Sejauh ini kau berusaha meyakinkan dirimu bila istrimu benar-benar masih hidup. Kau tak membolehkan pikiran-pikiran aneh merasuki dirimu. Kau tak terbayang bagaimana mengabari orang-orang apakah dengan cara menjerit atau menghubungi dokter untuk memastikan denyut nadinya atau justru mendatangi rumah-rumah tetangga?—pada jam-jam itu tak ada orang di rumah tetangga, kecuali para pembantu yang sibuk memasak serta mengurus rumah.