Kau berdebar saat seseorang itu memanggil nama istrimu. Rasa-rasanya kau mengenali suaranya yang belakangan membuat resah hatimu meski dengan wanita itu istrimu seolah bertambah-tambah saja umurnya. Bila sudah bertemu dengannya, wajah istrimu sedikit kemerahan. Istrimu tertawa, maka bisa kaurasakan betapa semangatnya masih sangat menggelora.
Wanita itu sebetulnya cuma pedagang pakaian keliling. Ia kadang mengreditkannya sehingga harus sering-sering ke perumahan. Namun ada saja orang yang tak mau mengutang. Takut bila tiba-tiba mati, siapa yang nanti membayar utang kita, ujar pelanggannya suatu ketika dan pelanggannya itu: istrimu. Sedang kepada pelanggan lain yang kadang suka mengunci rumah bila tahu jadwal ke datangannya, ia suka jengkel. Maka wanita itu jadi sangat senang berurusan dengan istrimu. Ia mulai pandai mengambil hati istrimu. Ia minta istrimu membuka telapak tangannya. Ia membaca di tangan istrimu, tentu saja yang si pedagang kain katakan adalah yang manis-manis.
Lalu dua minggu silam sewaktu mereka tampak begitu akrab sampai-sampai istrimu mengajaknya makan siang, istrimu terkagum-kagum. Ia, sipe dagang pakaian ini menebak pikiran istrimu dan berjanji membawakan apa yang istrimu pikirkan itu pada kedatangan berikutnya, yakni sekarang.
“Taruli, ada?”
Kau langsung menutup pintu setelah kebenaran tentang siapa yang datang hari ini seolah telah disuratkan. Saat ini bukan dari matamu saja ada basah yang leleh. Lubang hidungmu jadi beringus. Dahi dan telapak tanganmu dipenuhi keringat dingin dan kau mulai menggigil karenanya.
“Tolong buka pintunya, Abang,” ujar si pedagang pakaian sebab memergokimu dalam keadaan berlinang air mata.
Kau mengelap mata dan berpura-pura menyalahkan debu yang terbawa angin dari pekarangan karena di sana kelopak-kelopak bunga matahari sedang berguguran.
“Abang, tolong buka pintunya. Taruli memesan gaun putih padaku. Ia akan memakaikannya hari ini.”
“Tidak. Kau salah,” tepismu, merasa kesal kenapa wanita itu seolah telah meramalkan masa depan untuk istri yang teramat kaucintai.