Kau kembali menengok masakan dengan perasaan seperti malam tadi saat kau sayangsayangan dengan istrimu.
“Menggambarlah di sini,” pintanya, menunjuk dada sebelah kanan.
“Kayak mau ke mana saja,” kilahmu.
“Aku serius,” ujarnya lagi yang langsung membuka kancing bajunya dan menyuruhmu lebih cepat. Seusai kau melakukannya, ia memegangi tanganmu agar kau membantunya berdiri di depan cermin. Ia senyum haru melihat bercak abstrak di pori-pori kulitnya.
Di dapur itu sesekali kau memiringkan leher ke arah ranjang yang seharusnya matamu bisa langsung menatap wajah istrimu. Tadi, kau menurunkan gorden manik-manik yang gemerincing bila kau menyentuhnya. Sebulan lalu kau sudah minta izin menggantinya dengan kain biasa agar tidak mengganggu tidurnya bila kau sedang lewat. Istrimu melarangmu. Ia bilang tak sesenti pun ada yang berubah di rumah itu meskipun ia pada akhirnya pasti pergi.
Penutup kuali kaubuka, aroma masakan menyebar di udara. Kau mengambil sendok, menyiram-nyiramkan airnya ke bagian yang mulai mengering. Kauambil lagi sendok yang lebih kecil untuk mencicipi rasanya. Kau menelannya dengan mimik yang tak menunjukkan apa-apa. Segera kaumatikan api kompor. Kauraih periuk yang lebih besar, mengisinya air dan kembali menghidupkan api kompor. Namun, hingga air mendidih, hingga kau mencampurnya dengan air dingin sehingga siap dijadikan air pemandian, kau tak kunjung menyiapkan badan istrimu. Kau, saat ini duduk menunggu dan mulai memikirkan perasaanmu.
Di matamu basah menjalar. Kaubiarkan gerimis berubah deras tanpa berusaha mengeringkannya dengan ujung atau kerah bajumu yang bau bumbu. Kau justru menatap ke atas, meyakinkan itu merupakan tetes dari genangan air di atap rumah sisa hujan semalam. Atap itu kemarin bocor. Kau menambalnya. Sekarang kau mengatakan kepada dirimu bahwa air yang membuat basah matamu saat ini adalah air yang berasal dari sana karena hasil tambalanmu kurang rapi.
Kini ada yang mengetuk rumahmu. Siapa, tanyamu sambil pura-pura mengambil handuk, piyama warna hijau, pakaian dalam. Namun seseorang benarbenar datang.
“Taruli!”