Laki-laki paruh baya itu dijemput polisi keesokan harinya. Kasdiman membuang muka dari kejauhan, memandangi Kasno yang diseret polisi dari dalam rumah. Dalam sekejap, laki-perempuan silih berganti berkerumun guna menyaksikan Kasno digelandang polisi. Tatapan Kasno nanar, memendam amarah. Tatapan laki-laki paruh baya yang teraniaya.
Dengan sorot mata meradang, Kasdiman berjalan ke arah Kasno yang tengah berdiri di dekat pintu mobil polisi. Dua polisi yang memegang tubuh Kasno membiarkan Kasdiman menyampaikan sepatah dua patah kata sebelum akhirnya Kasno dijebloskan ke dalam penjara. Kasdiman isap sebatang rokok yang dijepit kedua jari-jari tangannya.
“Kenapa kau mencuri sapiku? Berikan aku alasan agar kau tak mendekam di penjara.” Pertanyaan itu ia lepas bersama dengan embusan asap rokok yang keluar dari mulutnya. Beberapa jenak, Kasno terdiam. Ia tersenyum kecut, seakan mengejek.
“Apakah kau masih percaya apa yang kukatakan?” Pertanyaan yang diajukan Kasno dijawab dengan desah napas panjang oleh Kasdiman.
“Bicaralah baik-baik padaku, akan kuberikan apa yang kamu butuhkan. Tak perlu mencuri seperti ini. Sekarang, jujur apa kau juga yang mencuri sapi-sapi penduduk selama sepekan ini?” Kasdiman memandangi raut muka Kasno, dengan kerut-kerut membentuk garis berliuk terombang-ambing di dahinya.
“Kejujuran macam apa yang kau harapkan dariku? Kalau kamu tak mau percaya dengan apa yang kukatakan. Aku bukan pencuri. Biarpun hidupku melarat, tapi aku masih bisa makan dengan cara baik-baik,” ujar Kasno menekan suara di depan wajah Kasdiman. Luapan amarah di dada Kasdiman meledak sampai laki-laki itu menampar Kasno di depan orang banyak. Dengan kedua tangan terborgol, Kasno tak dapat berbuat apa-apa, kecuali meludah ke muka Kasdiman.
“Suatu waktu kau akan menyesal. Tak akan kuampuni kesalahan kalian sebelum mencium kakiku!” Kasno mengatakan dengan api menyala-nyala di kedua bola matanya. Ia memandangi wajah Kasdiman, termasuk wajah orang-orang yang menatapnya penuh kebencian.