Pelajaran di Dalam Penjara

Satu hari setelah kepulangannya ke Tang-Batang, Kasno dikunjungi Kasdiman secara tiba-tiba. Beberapa warga berkerumun di luar rumah. Kasno terkesiap dan berpikir macam-macam. Jangan-jangan mereka mau menjebloskan ke balik jeruji lagi. Kasdiman bersimpuh di bawah lutut Kasno. Ingin ia mencium telapak kaki Kasno sebagaimana ucapan Kasno, bahwa untuk mendapatkan maaf darinya harus terlebih dulu mencium telapak kaki laki-laki yang kini disebut ustadz oleh orang-orang.

“Kamu benar, Kas. Kamu memang bukan pencuri,” ucap Kasdiman diantara isak tangisnya yang meratapratap. Diangkatnya bahu Kasdiman oleh Kasno. Dua lelaki itu saling rangkul. Kasno mengangguk memaafkan.

“Kau berubah, Kas. Benar-benar berubah.”

“Itu semua karena guruku, Kiai Mashurat dan tiga guru di dalam penjara. Kepada mereka aku belajar menjadi manusia yang tidak setengah-setengah,” kata Kasno memandang wajah Kasdiman yang sembab.

Berdiam sesaat, Kasno kemudian mengatakan, “Untuk berhasil menggapai apapun yang kita impikan, jangan tanggung-tanggung berbuat, nekadlah! Nekad berbuat baik atau jahat, terserah kau, karena keduanya kita sendiri yang akan memetik hasilnya.” Dan mata Kasno berkaca-kaca, melintas dalam benaknya yang sempit ujaran tiga lelaki itu sewaktu di dalam penjara. Diam-diam rasa sesal menyelinap di lubuk hati Kasdiman. Kenapa aku terburu-buru menuduh Kasno pencuri sapi? Kasdiman mengutuk kesalahannya.

 

Pulau Garam, Maret 2017

Zainul Muttaqin Lahir di Garincang, Batangbatang Laok. Batang-Batang, Sumenep Madura 18 November 1991. Cerpen dan Puisinya dimuat di pelbagai media nasional dan lokal. Salah satu penulis dalam antologi cerpen; Dari Jendela yang Terbuka (2013) Cinta dan Sungai-sungai Kecil Sepanjang Usia (2013) Perempuan dan Bunga-bunga (2014).Gisaeng (2015). Tinggal di Madura. Email; lelakipulaugaram@ gmail.com

Arsip Cerpen di Indonesia