Pelajaran di Dalam Penjara

“Jadi orang itu ya jangan tanggung-tanggung. Dituduh mencuri, ya mencuri aja sekalian, apa bedanya dituduh dan mencuri sungguhan, toh sama-sama meringkuk di penjara.”

“Mungkin sama di hadapan manusia, tapi beda di mata Tuhan,” kata Kasno lirih. Tiga lelaki itu kembali mengurai derai tawanya.

“Terserah kau sajalah! Hanya saja, jika kamu ingin berbuat apapun, berbuat nekadlah. Jangan tanggungtanggung, karena yang setengah-setengah tak jadi apa-apa. Mau jadi maling, ya jadi maling besar sekalian, korupsi misalnya, lumayan uangnya lebih gede dari pada yang curi ayam. Hukumannya pun sama, bahkan lebih lama yang curi ayam ketimbang koruptor.”

“Mau berbuat baik, ya jangan tanggung-tanggung, jangan setengah-setengah. Hidup penuh resiko. Tinggal kau pilih jalan mana yang mau kau tempuh. Jika ingin nekad, nekadlah senekad-nekadnya dalam kejahatan maupun kebaikan. Pilih saja diantara keduanya. Kau sendiri yang akan memetik dari apa yang kau tanam,” laki-laki berewok itu berujar panjang sekali. Kasno mengangguk-anggukkan kepala.

Setelah Kasno keluar dari penjara, ia berjalan menuruti langkah kakinya. Terngiang dalam pikirannya, pelajaran yang didapat dari dalam penjara, bahwa untuk berbuat harus nekad. Dengan terus membawa langkahnya, Kasno sungguh mengupayakan kenekatan belajar agama di pesantren terpencil, jauh dari hiruk pikuk perkotaan wajib dicapai.

Lima tahun setelah Kasno menimba ilmu pada Kiai Mashurat, ia diperkenankan pulang sekadar menengok rumahnya yang lama ditinggal. Terlebih dulu Kasno menjenguk tiga kawannya di dalam penjara. Mereka merangkul tubuh Kasno yang tengah mengenakan sarung, peci, dan bulir-bulir air jatuh dari mata tiga lelaki itu.

“Terimakasih atas pelajaran yang kalian berikan padaku selama di penjara. Bahwa untuk menjadi apapun harus berbuat nekad dan tak boleh tanggung-tanggung,” kata Kasno. Pelajaran di dalam penjara bagi Kasno amat berarti sampai-sampai Kasno menyebut tiga lelaki di balik jeruji itu dengan sebutan guru. Begitu Kasno menyebut nama “guru” tawa mereka langsung meledak.

Arsip Cerpen di Indonesia