Kasdiman tersenyum mengejek. Sesaat kemudian, dua polisi menarik tubuh Kasno, memasukkannya ke dalam mobil. Kerumunan orang-orang bubar setelah Kasno berada dalam perut mobil polisi dan meninggalkan bau asap knalpot.
Matahari merangkak pelan-pelan di permukaan langit ketika Kasno dijebloskan ke dalam penjara. Ia memasuki sel tahanan dengan mengenakan seragam, serupa penjahat yang meringkuk di balik jeruji. Kasno disambut tiga orang tahanan, para lelaki berewok, bertubuh gempal, dengan rambut panjang diurai sebahu. Bergidik Kasno melihat cara mereka menatap dirinya yang ringkih, penuh tulang-tulang serupa batang lidi di sebidang dadanya.
Mendengar mereka berdehem-dehem Kasno berusaha menenteramkan dirinya melalui senyum. Lelaki berewok menghampiri Kasno yang mengkeret di pojokan. Diajaknya Kasno berkumpul bersama mereka. Tiga lelaki itu tersenyum melihat sikap Kasno. Ketakutan dalam dada Kasno pun mencair, darahnya mengalir sebagaimana biasa setelah beberap menit sebelumnya dirasa menggumpal darahnya dalam tempurung kepala Kasno.
“Bagaimana kau sampai kesini?” tanya lelaki bertubuh gemuk. Terdengar berkarakter suaranya di dalam sel tahanan yang pengap.
“Warga kampung menuduhku mencuri,” jawab Kasno agak terbata-bata suaranya. Ia menundukkan kepala. Tiga lelaki itu saling tatap. Tangan Kasno gemetar. Keringat membasuh bajunya.
“Kau memang mencurinya?” Angin susah menyelinap masuk ke dalam penjara. Mereka mengipasi dirinya dengan sobekan kardus bekas yang biasanya dibuat alas tidur.
“Tidak. Sama sekali tidak. Sungguh.” Kasno menitikkan air mata. Tiga lelaki itu tertawa terbahak-bahak sampai kedua bahunya berguncang-guncang.
“Kalau begitu, ketika keluar dari penjara mencuri saja.” Lelaki gemuk itu menepuk pundak Kasno yang tengah mengelap air mata di pipinya.
“Ah, tidak. Aku bukan pencuri.” Kasno menggelengkan kepala.