Setiap kali mengajar, aku selalu mendapati perempuan itu duduk di dekat jendela. Dia memang menyimak penjelasanku. Tetapi ketika perhatianku tercurah pada salah seorang mahasiswa yang menyampaikan pendapat di sela-sela penjelasan, dia memilih membuang muka ke luar jendela. Kadang, aku pura-pura menyisir seisi kelas, mencari mahasiswa yang sibuk dengan dirinya sendiri. Padahal yang sebenarnya, aku ingin memperhatikan perempuan itu. Saat dia melempar pandangannya ke luar jendela, aku bisa memperhatikan hidungnya yang mancung dan bibirnya yang tebal dengan pahatan sempurna.
Kalau kebetulan aku menatapnya dan dia juga kebetulan memperhatikanku, tampak dari kejauhan sepasang matanya yang cerlang. Bola matanya hitam pekat, dikelilingi warna putih yang bersih. Tetapi, kecerlangan matanya seakan menyimpan banyak rahasia. Dan keindahan wajahnya seolah menyembunyikan ribuan kesedihan.
Jujur, meski seorang dosen, aku juga seorang manusia. Hatiku tidak terbuat dari batu. Jadi, aku bisa merasakan detak jantungku ketika diam-diam memperhatikan wajah perempuan itu. Hanya saja aku tidak bisa dengan sengaja memanggilnya demi urusan lain selain urusan kuliah. Lagi pula, aku bukan tipe lelaki yang berani terus terang. Aku bisa menjelaskan banyak hal di depan banyak orang dengan baik, tapi tidak dengan perkara-perkara yang menyangkut perempuan.
Untuk urusan begini, kadang aku merasa tidak tahu diri. Tidak pantas seorang dosen memperhatikan diam-diam mahasiswanya. Apalagi jika sampai mengajaknya kencan di Sabtu malam. Hal-hal semacam ini banyak sekali terjadi, dan menurutku itu tindakan yang tidak etis. Dan pada kesempatan-kesempatan tertentu, aku bahkan merasa lebih tidak tahu diri lagi. Untuk membuktikan bahwa aku dosen yang pantas dihormati, misalnya, aku dengan sangat egois menjelaskan sesuatu panjang lebar di depan kelas, sementara sebagian besar mahasiswaku hanya melongo di kursinya. Tak peduli mereka mengerti atau tidak, aku tetap saja menjelaskan, seakan-akan akulah satu-satunya sumber pengetahuan.
Aku merasa, barangkali semua orang memiliki sifat dan sikap yang sama sepertiku, berbusa-busa di depan banyak orang hanya supaya dianggap memiliki pengetahuan luas. Manusia memang sangat egois. Demi mengejar kepentingannya sendiri, mereka dengan tanpa beban mengesampingkan kepentingan orang lain. Yang penting urusan gaji lancar. Citra diri meningkat. Massa semakin banyak. Hidup membuat kelompok-kelompok. Berkubu-kubu. Lalu saling hujat dan menjatuhkan.
Manusia-manusia egois sudah menghuni seluruh sudut bumi. Dan aku, aku yang hanya memiliki ilmu tak sampai seujung kuku ini, merasa telah menjadi bagian dari mereka. “Tak apa. Seorang dosen memang harus terlihat pintar di depan mahasiswanya,” kata salah satu rekan dosen saat kami sedang mengobrol di ruang fakultas.
Aku hanya tersenyum.