Perempuan yang Duduk di Dekat Jendela

Seusai kuliah kelas kedua aku meninggalkan kelas. Aku turun lewat tangga yang menghubungkan gedung D dengan gedung C. Dari sana aku melihat perempuan itu berdiri di dekat tangga menghadap arah utara. Dia mengenakan kerudung warna hitam kombinasi putih motif bunga-bunga. Hidungnya mancung menikung. Bibirnya yang tebal berwarna merah delima. Aku mencoba mendekatinya sambil menyunggingkan senyum ketika tiba-tiba dia menyadari kedatanganku. Dia membalas senyumku. Senyum yang hangat.

“Kau tidak pulang?” sapaku lebih dulu.

“Belum, Pak,” balasnya. Lagi-lagi senyumnya tersungging dari bibirnya yang merekah.

Aku melirik kerudungnya, yang entah kenapa begitu serasi dengan warna wajahnya. Kami berhadap-hadapan. Aku yakin dia melakukannya sebatas karena ingin menghormatiku. Kutelisik wajahnya sesamar mungkin. Sepertinya tak ada yang berubah. Wajah itu masih tetap sama. Begitu melankolis, serupa wajah yang mengabarkan kesedihan sebuah kota. Ya, sebuah kota yang dibangun lalu diruntuhkan. Dibangun lagi, lalu dihancurkan lagi. Hidungnya semacam puncak Bukit Kuil yang diperebutkan. Pipinya adalah sungai darah dan air mata yang mengalir tanpa lelah.

Dan matanya, ya, matanya itu, jelas sekali mengandung kisah-kisah. Mungkin kisah kelam. Atau juga semacam ketakutan-ketakutan. Tidak begitu jelas memang apa yang ada di balik pancaran matanya. Aku hanya menangkapnya sebagai kesedihan yang tak berujung. Dia yang selalu termenung. Dia yang selalu merasa sendiri. Dia yang selalu menunggu, tanpa tahu siapa yang harus ditunggu. Dia yang kadang merasa kehilangan tanpa tahu apa yang telah benar-benar terenggut dari dirinya.

“Pak, Bapak,” dia melambai-lambaikan tangannya padaku. “Kenapa Bapak melihat saya seperti itu?”

Aku terkesiap dan segera menggelengkan kepala dengan cepat dan tegas. Kusunggingkan senyum getir bercampur malu. Entah bagaimana raut mukaku sekarang. Barangkali semerah kepiting rebus. Tetapi, segera aku kuasai keadaan. Dengan wajah ragu-ragu aku perhatikan kembali wajahnya, berusaha menelisik matanya yang tajam.

“Apakah kau punya kisah kelam?”

Arsip Cerpen di Indonesia