“Bagaimana, sudah ada mahasiswimu yang kecantol?” tanyanya kemudian sambil menggerakkan alis.
Sekali lagi aku hanya tersenyum sambil mengambil ponsel dari dalam saku. Aku tidak terlalu kaget mendengar pertanyaannya. Kendati seorang dosen dan usiaku sudah mendekati kepala tiga, aku masih setia sendiri. Rekan-rekanku yang lain di warung kopi sering menganggap bahwa aku tidak berhasil melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalu. Dari bayang-bayang seorang perempuan yang hampir aku nikahi, tapi gagal karena masalah ketidakpercayaan pada masa depan. Orang tuanya tidak yakin aku memiliki masa depan yang cerah. Maka perempuan itu, masa laluku itu, dikawinkan dengan lelaki lain yang sudah memiliki gaji dari pekerjaannya sebagai karyawan pabrik.
“Coba kau lihat ini!” kataku sambil menyodorkan ponsel. Di layarnya terpampang wajah seorang perempuan.
“Siapa?” tanyanya seraya memperhatikan lekat-lekat gambar wajah perempuan itu.
Aku tidak menjawab. Aku hanya tersenyum dan membatin, “Dia seorang perempuan yang selalu duduk di dekat jendela di kelasku.”
Aku tidak tahu apakah di kelas lain, dia juga melakukan hal yang sama. Duduk di dekat jendela sambil memperhatikan pemandangan yang jauh di luar. Tetapi di kelasku, dia selalu melakukannya. Aku penasaran, rahasia apa sebenarnya yang ada di balik matanya yang cerlang itu. Kedua mata itu seperti mengandung kisah-kisah. Seolah sepasang mata yang ingin bercerita.
“Kau tahu cara membuka tabir rahasia yang tersembunyi di balik mata?” tanyaku dengan suara sangat pelan.
“Rahasia?”
Aku mengangguk. “Ya, rahasia yang tersembunyi di balik pancaran mata.”
“Itu sulit. Tapi, coba kau tatap matanya dalam-dalam. Mungkin bisa membantu.”
“Apakah akan berhasil?”
“Aku tidak tahu. Tetapi, tak ada satu rahasia pun di dunia ini yang tidak dapat terkuak.”
Seperti biasa, kuliah hari Sabtu hampir selalu membosankan. Semestinya hari ini tak ada kuliah. Tetapi kelas tambahan selalu membuatku tak bisa melakukan lebih banyak hal di akhir pekan. Aku sendiri sejak gagal menikah belum pernah menghabiskan malam minggu atau merayakan hari libur. Aku tak merasa perlu merayakannya. Demi apa? Toh, bagi seorang lelaki sepertiku menghabiskan malam minggu berarti merayakan sebuah kehilangan. Toh, merayakan hari libur bukan jaminan bahwa seseorang tidak sedang sebatang kara.