Suatu Malam di Rumah Sakit

Itu kematian pertama sejak dia menjadi dokter muda. Dia pula yang, bertopeng wajah datar, dengan hati kacau mesti menjelaskan pada orang tua bahwa si bocah mabuk itu sudah mati.

Malam ini sepi. Tak ada pasien masuk instalasi gawat darurat (IGD). Sebenarnya tidak aneh. Ini kan rumah sakit di kota kecil. Meski rumah sakit utama daerah tetap saja sepi. Televisi mati. Namun perawat yang lebih muda sedang menonton drama Korea di hape dari balik meja jaga. Takzim dia. Teman dokter mudanya yang jaga bersama dia juga menonton. Namun menonton perawat muda itu sambil cengar-cengir. Gemas melihat anak muda itu berbinar melihat cowok Korea yang tidak maskulin buat ukuran umum.

Baca juga: Sebuah Pesan dan Bemo yang Memikat – Cerpen Galang Hutriadi (Suara Merdeka, 09 September 2018

Reni, itulah dokter mitra jaga Uky malam ini. Yang lebih sering pada malam-malam lain. Tentu Uky senang. Reni berwajah luhur dengan senyum yang, kalau mau percaya, membuat dengkul lelaki yang baru puber melemas. Perempuan itu berambut lurus hitam kelam. Karena dokter muda, dia harus menguncir rambut.

Uky beranjak dari bangku jati menuju pintu utama IGD sambil memeriksa apa masih ada sekotak rokok di saku. Pikirannya masih berkabut. Nyawa belum sepenuhnya berkumpul.

Reni melihat Uky keluar, lalu menyusul.

“Mau ke mana, Ky?”

“Merokok sebentar. Mau ikut?”

Reni menaikkan alis, tetapi terus mengekor. Malam ini sepi. Benar-benar sepi, sehingga suara katak dari got depan pun terdengar. Tak ada suara ambulans. Mobil juga tidak ada. Hanya sesekali motor dengan knalpot memekakkan lewat. Dasar ABG labil.

Arsip Cerpen di Indonesia