Uky tercekat, ingat anak muda yang melepas nyawa karena kebut-kebutan. Mungkin mereka yang lewat itu kumpulannya juga. Jelas kematian teman tak cukup menjadi pengingat bagi mereka. Dasar ABG labil!
Mereka beralih ke samping IGD. Tidak elok jika terlihat orang berpakaian jaga malah merokok. Ada bangku jati panjang di selasar samping IGD. Entah mengapa banyak betul bangku jati panjang tua di rumah sakit ini. Agak remang di situ. Kelipan api korek menyala sebentar, digantikan bara rokok kretek. Kepala Uky jadi agak enteng sedikit demi sedikit.
“Masih kepikiran Rusdi, Ky?” tanya Reni.
Rusdi adalah anak tanggung yang meninggal karena balap liar itu.
“Iya. Sedikit.”
Baca juga: Tanah Pancuran – Cerpen Suroso (Suara Merdeka, 26 Agustus 2018)
Reni terdiam. Dia tidak menjadi saksi kematian Rusdi. Namun dia yang sang ayah saat sakaratul maut, tanpa sang ibu di sisinya. Diam sejenak, sambil memikirkan hendak membahas topik apa. Sebelumnya mereka tidak begitu saling kenal. Setelah menjadi satu kelompok kerja, mau tak mau akhirnya mereka akrab. Karena itulah dia kadang bingung menghadapi Uky.
Hening. Suara kodok terdengar lagi sesaat, ditingkahi suara keretek dari rokok Uky.
“Ky,” Reni memanggil. “Aku kira kamu batal lanjut dokter muda. Teman-teman mengira setelah sarjana kamu bakal melanjutkan usaha ayahmu.”
“Mauku sih begitu, Ren.”
Dia mengisap rokoknya kembali.
“Tapi sebelum meninggal Bapak memintaku melanjutkan. Kalau kuat, lanjut spesialis. Kalau kuat ya.”