Suatu Malam di Rumah Sakit

“Mungkin sudah senang dengan kehidupan barunya. Sama laki-laki baru. Aku merasa cukup kok. Warisan Ayah aku bawa. Lebih dari cukup, asal aku tidak jalan-jalan ke luar negeri, terus beli tas Hermes.”

Reni tertawa kecil. Manis sekali.

Dia melepas kuncir rambut, lalu menguncir kembali. Uky melihat adegan itu dalam sorot lampu remang dari belakang Reni.

“Sori, Ren. Aku tak tahu.”

“Tak apa. Aku juga jarang cerita ini pada teman-teman. Karena itulah, Ky, bersyukur. Setidaknya kau masih punya mama kan?”

“Oh iya, aku belum cerita ya?” Uky menatap wajah bingung Reni yang selalu manis itu. “Ibu menyusul Bapak tak sampai setahun setelah Bapak pergi. Kuburan mereka bersebelahan. Gundukan tanah Bapak juga masih tinggi. Lebaran kemarin aku memimpin tahlilan keluarga besar di depan kuburan mereka. Aku dulu nakal, tetapi masih fasih baca Yasin tahlil kok.”

Baca  juga: Kota-kota di Ujung Jari – Cerpen NF Rifana (Suara Merdeka, 12 Agustus 2018)

Mereka berdua tertawa. Setelah lebih dari enam bulan mereka satu kelompok, baru ini mereka bisa bicara secara lancar. Mereka jadi tahu, sama-sama tak punya orang tua. Bedanya, Uky tahu kedua orang tuanya meninggal, sedangkan Reni tak tahu apa kabar sang ibu.

Malam masih panjang. Masih hening pula. Reni hampir bilang hari raya nanti tak punya rumah untuk pulang. Namun belum sempat karena Uky berkata, “Aku berniat ke pedalaman Kalimantan sehabis lulus, Ren. Kalau bisa.”

“Kok?”

“Seperti katamu, biar orang tuaku bangga melihat anaknya berbakti.” Mereka berdua tertawa.

“Biasanya ya, ini biasanya, anak baru masuk kedokteran saat ditanya alasan kenapa masuk kedokteran, menjawab mau bantu orang, termasuk aku. Tapi saat kuliah susah, mahal pula, alasan itu menguap. Kamu berkebalikan. Dulu bilang supaya bisa mapan, sekarang lain.”

Arsip Cerpen di Indonesia