Kali ini dia mengisap lebih lama, lalu menahan asapnya, baru mengembuskan. Wajahnya khas. Satu per satu beban seperti lepas dari kepala. “Usaha Bapak akhirnya diurus kakak perempuanku. Aku terima bagian saja. Kalau mau egois, sejak dulu aku tak mau kuliah berat begini, Ren. Tapi rasanya aku ingin menebus dosaku pada Bapak. Zaman beliau hidup, aku cuma bikin susah beliau. Disuruh ke pesantren tak mau, sekolah biasa malah nakal. Untung, agak pintar,” ujar Uky seraya terkekeh pelan. Tawa satire, sedih.
Baca juga: Tujuh Anjing Penjaga – Cerpen Ken Hanggara (Suara Merdeka, 19 Agustus 2018)
Hening lagi. Reni merasa salah pilih topik pembicaraan. Sejenak Uky menyesap rokok.
“Waktu bapak kakak sepupuku meninggal, dia berpesan, ‘Dik, kamu masih punya bapak. Mesti kamu sayang.’ Ibuku juga begitu, setiap kali ada saudara meninggal, waktu mau uruk liang kubur, beliau menghampiri aku. ‘Lik, sekarang saudaramu sudah nggak punya bapak, sayangi bapakmu ya.’ Kalau sudah begitu, ya tak mungkinlah aku memungkiri pesan Bapak.”
Reni tersenyum. “Anak ini ternyata sudah dewasa,” batin dia. “Bapakmu pasti senang ya lihat kamu sekarang.”
“Sayang, Bapak tak melihat. Aku menjadi seperti sekarang juga harus melewati proses Bapak meninggal dulu.”
Baca juga: Dajjal di Kampung Surga – Cerpen Mazka Hauzan (Suara Merdeka, 05 Agustus 2018)
Orang lain mungkin canggung menghadapi pembicaraan macam itu. Namun mereka tidak. Mereka sama-sama anak yatim.
“Untung, warisan dari Ayah lumayan, Ky. Kalau tidak, mungkin kuliahku bukan di kedokteran.”
“Ibumu?”
“Mama? Tidak tahu. Aku wisuda sarjana, batang hidungnya tidak kelihatan.”
Hening sebentar. Baru suara keretek terdengar lagi, lalu menguar bau wangi tembakau.