“Baik, pagi ini ada yang tidak membawa telur, alat suntik, atau perasa makanan?” Bahrul berbasa-basi.
Semua murid menjawab tidak. Seharusnya Bahrul paham. Empat meja persegi di depannya sudah lengkap dengan segala peralatan dan bahan yang mereka butuhkan. Untuk mengulur waktu, Bahrul menjelaskan sedikit instruksi. Padalah, minggu lalu dia sudah menjelaskan. Apalagi nanti dia tentu bakal berkeliling ke setiap meja untuk menjelaskan lebih detail kepada setiap kelompok.
Waktu seolah-olah melambat. Perasaan Bahrul tercekam kesunyian di laboratorium itu. Benda-benda itu seolah-olah berteriak dan memaki-maki. Kerangka tubuh patung manusia di pojok ruangan terasa memelototi. Bahrul bergidik ngeri. Neraca-neraca juga seperti sedang menimbang-nimbang keyakinan Bahrul.
Di sekolah Bahrul, laboratorium biologi juga digunakan sebagai laboratorium kimia. Bahkan terkadang digunakan sebagai kelas biasa, tidak sekhusus di sekolah menengah atas.
Bahrul memulai kelas praktik dengan memberikan contoh. Dia mengebor telur, lalu menyuntikkan perasa makanan. Rasa cokelat.
“Saya ingin telur ini memiliki rasa cokelat. Kalian bisa mencoba sampai di sini dulu. Satu kelompok cukup tiga telur. Jika kesulitan, silakan bertanya. Jika cukup, silakan mencoba.”
Antusiasme murid cukup besar. Bahrul berdehem, kemudian keluar. Udara di luar lebih sejuk. Kepeningan Bahrul terusir udara segar.
“Jadi eksperimen, Pak?” Suara lembut Wanda mengusik Bahrul. Guru muda itu mendekat. Kepalanya melongok ke jendela laboratorium. “Sepertinya anak-anak antusias sekali ya?”
Tidak ada yang lebih baik selain mengangguk dan tersenyum.
“Saya ada ide, Pak. Kalau telur aneka rasa ini jadi, anak-anak marketing bisa menghadap saya. Akan saya buatkan usaha. Jadi di kelas ini mereka tidak hanya sekadar praktik,” ujar Wanda dengan wajah berseri-seri. Guru kewiraswastaan itu memang selalu berbinar ketika membicarakan bisnis.