Telur Aneka Rasa

“Tadi saya ingin memberi tahu, tetapi sepertinya Bapak sedang tidak bisa diganggu,” siswa laki-laki di samping Jeni bicara.

Bahrul hanya dapat ber-oh dan manggut-manggut. Tiba-tiba ada asupan energi merasuk ke tubuh Bahrul. Dia kembali bergairah.

“Baik. Karena listrik mati dan waktu hampir habis, kalian boleh kemas-kemas. Urusan telur, biar saya tanggung.”

Terdengar lenguhan panjang. Namun tak sedikit siswa bersorak senang. Bahrul ingin melompat-lompat. Dengan penuh percaya diri dia akan menemui Wanda dan mengatakan eksperimennya gagal karena listrik mati. Dia pun mengemasi perlatan dan bahan yang tersisa.

Lima belas menit kemudian, Bahrul menuju ruang Wanda di minimarket bawah tangga. Guru muda itu sedang bersantai di kursi, menghadap meja berisi tumpukan lembar kerja siswa.

“Bagaimana, Pak?”

“Gagal,” sahut Bahrul berdiri di depan meja Wanda.

“Kok bisa?”

“Listrik mati.”

“Oh, jangan khawatir. Kita rebus di pantry saja yuk.”

Bibir Bahrul kembali lengket. Dia tak bisa berbuat apa-apa, selain mengangguk dan berjalan. Wajahnya kembali kusut. Wanda tampak lebih berbinar. Jika sampai gagal, Bahrul tidak tahu harus menyalahkan apalagi.

Di pantry tidak ada orang. Wanda dengan hati-hati menuang air ke dalam panci. Dia meletakkan telur-telur setengah matang itu.

“Kita perlu waktu beberapa menit lagi.”

Wanda dan Bahrul menunggu di kursi dekat kompor. Namun sebelum mereka duduk, api di kompor mati. Dengan langkah cepat Wanda menuju ke kompor. Dia menghidupkan kompor. Namun tidak menyala.

Arsip Cerpen di Indonesia