Wajah Bahrul mengerut, meski berkali-kali ia mencoba menyeterika dengan senyuman.
“Ini bisa jadi brand di sekolah kita. Guru ilmu komputer mengembangkan eksperimen telur aneka rasa. Usaha roti sobek bisa kalah lo, Pak.”
Gigi Wanda terlihat kinclong.
“Ya sudah, saya lanjut ke minimarket. Pukul sepuluh saya ada kelas di jurusan automotif.”
Tubuh tinggi semampai Wanda meninggalkan Bahrul yang makin mengerut. Tak lama, Jihan, ketua kelas marketing, keluar. Dia mengabarkan semua telur sudah disuntik.
“Baik. Setelah semua telur disuntik, mari kita rebus.”
Tangan Bahrul mengambil telur yang sudah dia suntik dengan perasa cokelat. Semua murid secara serampak meletakkan telur masing-masing.
Kekhawatiran Bahrul menjadi-jadi. Dia belum siap menanggung malu. Malu pada Sobiron, pada Wanda, dan pada murid-murid di kelas. Apalagi saat membayangkan telurnya adalah satu-satunya telur yang tak menunjukkan hasil, sementara semua murid berhasil. Sobiron pasti tertawa tergelak-gelak. Wanda pun tak lagi memuji dia.
Lalu murid-murid? Ah, tiga puluh dua murid di depannya itu akan melipatgandakan mulut. Berita ketidakberhasilan itu akan sampai ke mana-mana. Apalagi kalau ada murid yang dekat dengan guru lain atau guru di sekolah lain atau memiliki kekasih di sekolah lain. Reputasi ahli komputer bernama Bahrul Nawawi bakal jatuh karena sebutir telur yang gagal berasa cokelat. Dia tak lagi dipercaya hanya karena sebutir telur. Bahrul akan mati menanggung malu. Mulut Sobiron apalagi, tak bisa berhenti tertawa dan menyalahkan, kenapa dulu tak mendengar perkataannya.
Entah sudah berapa lama Bahrul melamun di kelas. Di depan murid-murid yang sejak tadi riuh mengobrol. Bahrul melirik arloji. Sudah setengah jam. Dia berjalan ke setiap meja.
“Lo, telurnya sudah matang?” Nada kaget Bahrul membuat kelas tiba-tiba hening. “Kok tidak bilang sejak tadi?”
“Listrik mati, Pak,” jawab Jeni.