Kebohongan dengan mudah meluncur dari bibirmu. Kamu tidak punya anjing. Hanya teringat ketiga adikmu yang kuat makan. Kamu pulang memundak nasi sisa. Sampai di rumah, segera memberi makan ketiga adikmu, lalu mencuci nasi sisa, meniriskan dan menunggu besok pagi untuk dijemur.
Mengenang ibumu, sama saja membuka kembali luka lama. Bukan tidak tahu apa yang ibumu kerjakan tiap malam. Ibumu seorang pelacur. Tiap malam melayani para lelaki hidung belang.
Pemilik rumah makan menerimamu sebagai karyawan tetap. Tugasmu mencuci piring, mengelap meja, mengiris bawang, dan menyapu lantai. Waktu kerjamu berakhir pukul lima petang. Setiap pulang kerja, kamu menyempatkan diri duduk di pinggir sungai tidak jauh dari rumah makan. Kamu bisa melihat sekumpulan pemuda bermain bola di tanah lapang seberang sungai.
Beberapa hari ini, seorang anak laki-laki ikut menikmati pergantian petang di pinggir sungai. Kalian tidak pernah saling menyapa. Anak laki-laki itu selalu membawa gitar. Ia bernyanyi dan tidak mau berhenti sebelum kamu tertawa. “Satria bergitar! Besok aku ulang tahun. Boleh menyanyikan lagu happy birthday untukku?”
Petang ini, kamu beranikan diri menyapa anak laki-laki itu untuk pertama kali. Suara cemprengnya seketika berhenti. Ia mengangguk seiring bibirnya melengkungkan senyum.
“Aku suka panggilan itu. Boleh memanggilmu bidadari sungai?”
Bidadari sungai? Kamu tertawa tak kuasa menahan lucu. Tidak ada bidadari sejelek dirimu. Hari semakin gelap. Lapangan bola di seberang sungai sudah sepi. Kamu dan Satria bergitar beranjak pulang. “Siapa namamu sebenarnya?” ujarmu.
“Lebih senang bila kamu memanggilku Satria.” Jawabnya sebelum kalian berpisah di simpang jalan.
***
Sudah terlambat tiba di pinggir sungai. Semua gara-gara tumpukan piring kotor harus kamu cuci. Di ulang tahunmu ketiga belas, seseorang akan menyanyikan lagu happy birthday buatmu.