“Apa yang kamu lukis?”
“Ketiga adikku sedang bernyanyi. Dan kamu bermain gitar mengiringi mereka.”
Kebahagiaan itu hanya sekejap. Keesokan hari, Satria tidak muncul di pinggir sungai. Mungkin ia sibuk hingga tak bisa datang. Mencoba berpikir positif. Kamu menunggu berhari-hari. Satria tidak muncul juga. Pesona sungai mendadak tidak menarik lagi.
***
Ketiga adikmu sudah bersekolah. Mereka pergi mengumpulkan barang bekas setelah makan siang. Hari ini, kamu keluar dari rumah makan dengan lesu. Gajimu banyak dipotong untuk membayar beberapa buah piring tak sengaja kamu pecahkan. Sejenak berdiri di trotoar menatap lurus ke dalam kedai kopi seberang jalan. Seorang pemuda berambut ikal duduk dl sudut kedai. Pemuda itu lumayan tampan. Ia memiliki rahang kokoh. Saking sering melihat pemuda itu bisa menebak berapa tinggi dan ukuran lingkar pinggangnya.
Kamu melanjutkan langkah hendak pulang. Sekitar sepuluh meter di depanmu, seorang ibu membuang satu kotak kue tart ke tong sampah. Kue itu masih layak dimakan. Mungkin ia punya persediaan kue terlalu banyak hingga meja makannya tidak cukup untuk menampung. Kamu percepat langkah, lalu berhenti tepat di samping tong sampah. Kepalamu bergerak ke sekeliling, memastikan apa ada orang melihat ke arahmu. Jalan tampak sepi. Segera mengambil kue dan memasukkan dalam tas.
Keesokan hari, kembail melewati tong sampah itu, berharap ada lagi makanan bisa dibawa pulang. Kali ini, tanpa rasa malu, kamu melongok ke dalam. Seakan tak percaya, empat bungkus roti keju kamu temukan di dasar tong. Matamu berbinar ketika mengangkat roti itu. Namun seseorang menamparnya dari tanganmu hingga terjatuh. Tak menyangka, pemuda yang duduk di kedai kopi pelakunya. Wajahmu bersemu merah. Pemuda itu menarik tubuhmu lebih dekat. Tak ada kata. Mata kalian beradu sesaat. Ia menyelipkan beberapa lembar uang ratusan ribu ke tanganmu, lalu pergi.
“Kamu kira aku seorang pengemis?” Kamu sangat malu ketahuan mengacak-acak isi tong sampah bagai anjing kelaparan. Pemuda itu telah berada di sisi jalan. Kalian berseberangan saling menatap.