“Ambil kembali uangmu.” Kamu lemparkan uang itu ke tengah jalan.
“Kamu bidadari sungaiku.” Ucapan pemuda itu melempar ingatanmu pada sungai, lapangan bola dan hamparan rumput.
“Kamu Satria?” ucapmu ragu-ragu. Pemuda itu mengangguk sembari mengambil secarik kertas dari kantong kemeja.
“Mengapa tiba-tiba menghilang. Sungai tak lagi indah tanpamu.”
“Aku menghilang karena ibumu.” Kamu terkejut. Meski ibumu seorang pelacur dan telah meninggalkan kalian bertahun-tahun, masih berharap ibumu kembali. Kamu ingin melihat surga di telapak kakinya?
“Di mana ibuku sekarang.”
Tiba-tiba sebuah bus melintas dan berhenti di antara kalian. Pandangan terhalang beberapa detik. Bus kembali melaju. Satria tidak ada lagi di seberang jalan. Di atas aspal, secarik kertas bergerak ditiup angin menuju ke arahmu. Kamu memungut kertas itu dan membaca tulisan yang ada di sana: Jangan mencari ibumu lagi. Aku sudah membunuhnya. Ibumu telah menghancurkan keluargaku hingga ibuku nekat mengakhiri hidup dengan mengiris kemaluannya. Mendadak pandanganmu mengabur. Kamu berdiri mengumpulkan roti kejumu yang berserak. Kalian berempat harus tetap hidup. ***
Dody Wardy Manalu. Guru Ekonomi SMA Negeri 1 Sosorgadong. Domisili di Sosorgadong, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.