Menanti Kabar Ibu

Kamu berdiri di hadapan Satria dengan napas tersengal. Tubuhmu basah oleh keringat. Satria mempersiapkan diri sesempuma mungkin. Dari tubuhnya menguar aroma parfum. Kepala ditutupi topi kerucut terbuat dari koran bekas. “Pakai topimu.”

Satria memakaikan topi kerucut di kepalamu. Ini pertama kali ulang tahunmu dirayakan meski tanpa kue tart dan nyala lilin. Satria memetik gitar. Suara cemprengnya melantunkan lagu happy birthday. Air mata jatuh tanpa kamu sadari. “Kamu menangis karena suaraku jelek?”

Satria menghentikan petikan gltarnya. “Justru aku sangat bahagia.”

“Hapus air matamu. Aku ingin memberi kado untukmu.” Satria menggapai tanganmu, lalu membawamu melompati batu-batu menyeberangi sungai. Kalian melintasi lapangan bola dan memasuki kebun karet.

“Kita mau ke mana?” tanyamu.

“Menjemput kadomu.” Begitu keluar dari kebun karet, kalian disambut hamparan rumput. Satria mengajakmu duduk di alas rumput mulai berembun.

“Di tempat ini, aku sering melukis di awan.”

“Ini kado yang kamu maksud?”

Satria mengangguk.

“Bagaimana bisa. Awan itu tinggi.” Matamu membola seperli mata kucing. “Cukup menggerakkan jarimu di udara. Bayangkan apa ingin kamu lukis. Biarkan awan mengikuti jalan pikirkanmu. Mau mencoba?”

Satria meraih tanganmu, lalu mengangkat ke udara. “Gerakkan jemarimu.” Matamu terpejam membayangkan sosok yang akan kamu lukis, menggerakkan jari di udara mengikuti bentuk khayalanmu. Sudah selesai. Kamu membuka mata. Awan menggumpal membentuk sosok dalam pikiranmu.

“Apa kamu berhasil melukis di awan?” Kepalamu mengangguk.

Arsip Cerpen di Indonesia