William Shakespeare pernah bilang, apalah arti sebuah nama? Maka kami jawab nama adalah identitas. Seperti di kampung kami namanya Boyang Mekkeqde. Didasari karena dulu rumah di sini hanya ada satu model yaitu rumah panggung. Makin ke sini zaman, makin tinggi pula gengsi kami. Berlomba-lomba kami merobohkan rumah panggung. Bisa juga dijual jika masih layak. Kemudian dibangun rumah batu.
Dulunya sepanjang jalan ini, rumah panggung berjejer. Saat ini banyak perubahan. Jalannya jauh lebih mulus, pohon-pohon yang rindang di depan rumah diganti dengan tanaman bias, yang tidak bisa dijadikan tempat berteduh manakala matahari mengamuk atau hujan mengadang. Dulu sepanjang jalan ini hijau asri, sekarang hijaunya memudar. Menghirup napas tak sesegar dulu lagi, debu-debu memasuki hidung. Polusi bertebaran di mana-mana. Yang tak kalah mengerikan matahari kelewat ganas menyengat kulit. Baru beberapa langkah memasuki jalan ini, keringat telah bercucuran.
Kian hari rumah batu kian marak, rumah panggung tersisihkan. Untuk membedakan mana warga yang banyak uang dan mana warga yang sedikit uang bisa dilihat dari rumahnya. Rumah batu untuk mereka yang tergolong mapan sedangkan rumah panggung menandakan warga yang kurang mampu. Memiliki persediaan pas[pasan dari bulan ke bulan.
“Boyang Mengkeqde, nama pemberian leluhur. Kita baru lahir kemarin sore. Jangan seenaknya mengusulkan penggantian nama kampung.”
“Nama adalah identitas. Boyang Mengkeqde tidak menggambarkan lagi identitas kampung kita yang sekarang. Tidakkah kau lihat, rumah panggung yang tersisa berapa saja. Orang-orang ramai menggantinya dengan rumah batu. Kenyataan demikian, masih pantaskah kampung ini bernama Boyang Mekkeqde?”
Perbincangan tentang usulan pergantian nama kampung, hadir saat kami sedang asyik-asyiknya menonton pertandingan akbar sepak bola tim-tim Eropa. Saat dinginnya subuh bikin menggigil. Jika permainan kedua tim temponya lambat alias tak ada peluang berarti, kami sempatkan untuk melanjutkan perbincangan tentang usulan pergantian nama kampung.