Di Boyang Mekkeqde Ada Maakkeq Boyang

Kemajuan zaman, menuntut warga untuk melebarkan gengsinya pada urusan rumah. Walau bagaimana pun juga rumah adalah istana. Kaya miskinnya seseorang dapat dilihat dari rumahnya. Dulunya sepanjang jalan ini hanya ada satu model rumah yaitu rumah panggung. Sekarang rumah panggung nasibnya terpinggirkan akibat melebarnya gengsi kami.

Rumah batu disanjung tinggi, dipermak indah, dibuat mengkilat sehingga bikin bangga. Kami tidak salah, zaman pun tidak salah. Hanya yang disayangkan dari maraknya penggunaan rumah batu, mau tidak mau akan tenggelamnya satu tradisi peninggalan leluhur kami. Tradisi itu tidak akan didapat lagi oleh generasi setelah kami yang akan datang.

Di kampung kami di Boyang Mekkeqde ada tradisi Maakkeq Boyang. Sekarang, tradisi memindahkan rumah sudah jarang terlihat. Dulu, ketika di kampung kami masih marak rumah panggung, dua atau tiga minggu sekali selalu berjumpa dengan tradisi ini. Jika kebetulan ada warga yang ingin memindahkan rumahnya, ditempatkan pada posisi baru. Maka akan diumumkan sebelum atau selesai salat Jumat.

Tradisi Maakkeq Boyang memberikan banyak pelajaran hidup. Di dalamnya kami banyak belajar semangat gotong royong. Rumah panggung yang beratnya sampai berton-ton tidak terasa apa-apa saat dipikul bersama-sama.

Maakeq Boyang memang identik dilaksanakan pada hari Jumat. Kemungkinan kecil sekali dijumpai pada hari lain. Di kampung Boyang Mekkeqde hanya ada satu hari, tempat berkumpulnya kaum lelaki yaitu pada hari Jumat saat melaksanakan salat Jumat. Hari Jumat memang hari istimewa bagi kami. Hari itu para nelayan libur melaut, sebagian pelani juga begitu. Walaupun ada yang ke sawah atau ke kebun maka harus pulang beberapa jam sebelum waktu salat Jumat.

“…. Mohon perhatiannya sebentar! Kebetulan hari ini saudara kita atas nama Puang Jamal ingin memindahkan rumahnya. Beliau mengharapkan sekali bantuan tenaga kita. Jadi sekiranya setelah keluar dari masjid. Kita bisa bersama-sama menuju lokasi rumah beliau….” ucap Kepala Dusun menggunakan pengeras suara di hadapan seluruh jemaah salat Jumat.

Arsip Cerpen di Indonesia