Setelah doa bersama, kami berhamburan keluar masjid. Berbondong-bondong menuju lokasi rumah yang akan dipindahkan. Puluhan hingga ratusan kaum laki-laki, baik itu anak-anak, para remaja, orang dewasa hingga orang tua. Semua terlibat dalam kegiatan Maakeq Boyang. Malu bagi kami jika mengabaikan seruan itu. Maakeq Boyang adalah tradisi leluhur kami, di dalamnya ada semangat gotong royong.
Rumah panggung yang ingin dipindahkan, sebelumnya sudah dikosongkan isinya. Tujuannya biar mengurangi bobot rumah. Balok penyangga dihubungkan dari tiang ke tiang. Menjadi stan bagi kami. Setelah menempati posisi masing-masing. Satu orang yang memiliki suara lantang akan menjadi komando Maakeq Boyang.
“Saaaatuuuu…Duuuuaaaa…Tiiiiigaaaaa…” ucapnya hingga nampak urat lehernya dan wajahnya memerah. Rumah pun terangkat dipindahkan ke posisi yang dikehendaki. Panas bukan menjadi penghalang. Semua semangat. Dan, senyum lepas akan kami tampakkan setelah Maakeq Boyang usai. Selalu ada suguhan menarik dari pemilik rumah kepada kami yang telah bahu membahu memindahkan rumahnya. Suguhan itu adalah uleq-uleq bue dan cendol, dua hidangan menarik yang sudah tidak bisa dipisahkan lagi dari tradisi Maakeq Boyang.
Sambil menikmati hidangan itu kami akan saling bercerita. Tentang keadaan tanaman padi kami sudah sampai di mana, tangkapan ikan kami seberapa banyak, bisnis kami apakah lancar atau tidak. Dan, juga tidak lupa menyelipkan pembahasan tentang pergantian nama kampung.
“Ironisnya, di Boyang Mekkeqde jarang lagi dijumpai rumah panggung. Yang kutakutkan tradisi seperti ini akan hilang. Anak cucu kita tidak akan tahu lagi, betapa pada tradisi Maakkeq Boyang di dalamnya ada semangat kebersamaan dan semangat gotong royong,” komentar salah satu di antara kami saat menikmati uleq-uleq bue.