“Sebelum mengusulkan nama kampung diganti. Terlebih dahulu kalian beritahu Kama’ Takwa untuk mengganti nama anaknya.” Kami sudah bisa menangkap maksud ucapan itu.
Kama’ Takwa memiliki seorang anak bernama Abdullah Takwa. Karena nama adalah identitas dan dijadikan alasan untuk mengganti nama Boyang Mekkeqde, karena tidak sesuai lagi dengan kenyataan sekarang. Maka memang perlu diusulkan untuk pergantian nama Abdullah Takwa. Nama yang mengandung makna baik itu dicederai dengan perangai Abdullah Takwa sendiri yang buruk.
Alasan Kama’ Takwa beserta Kindo Takwa memberi nama anaknya Abdullah Takwa. Mungkin saja kelak Abdullah Takwa bisa menjadi hamba Allah yang taat menjalankan perintah Allah dan menjauhi segalah larangan-Nya. Boro-boro Abdullah Takwa mau bertakwa, hobinya saja suka judi, mabuk hingga meniduri janda jablai. Jika kami tetap ngotot ingin mengusulkan pergantian nama kampung Boyang Mekkeqde, harusnya Kama’ Takwa tedebih dahulu diberi usul untuk mengganti nama anaknya. Nama adalah identitas. Tabiat Abdullah Takwa melenceng dan makna namanya.
“Leluhur kita bisa saja memberi nama kampung ini Boyang Mekkeqde. Dengan harapan kita tetap melestarikan Boyang Mekkeqde di kampung ini. Apalah kenyataannya sekarang. Demi gengsi, rumah panggung berniat dirobohkan, rumah batu dicita-citakan dibangun.”
“Itu bisa saja ya. Dan. bisa juga leluhur kita memberi nama kampung ini Boyang Mekkeqde karena kebetulan saat itu rumah yang ada semuanya rumah panggung. Jika pada masa itu yang marak adalah rumah batu, bisa saja leluhur lata membeh nama kampung ini Boyang Batu.”
Gara-gara perbincangan itu, tanpa kami sadari pertandingan sepak bola yang tayang di televisi skornya 2-0. Dua gol kami lewatkan saking asyiknya berbicara tentang usulan pergantian nama kampung.
***