Tragedi di Meja Makan

“Mama kan bisa memplester mulut bocah itu, setidaknya sampai tamu kita pulang.”

“Telaat!”

Dan pintu kamar pun dibanting. Mira sudah meringkuk di dalamnya dengan rantai membelit seperti ular di antara tangan dan kedua kakinya. Dua orang di luar kamar Mira bukan seperti Mama ataupun Papa, mereka lebih mirip sipir penjaga sel rumah sakit ‘Sido Waras’.

Mama dan Papa memang pernah membawa Mira berobat ke sana dua tahun lalu, saat umur Mira masih dua belas tahun, tapi tak ada hasil, padahal biayanya mahal setengah mati. Maka, keputusan terbaik dari Mama dan Papa adalah mengurung Mira dalam kamar dan merantainya. Sudah.

***

Mira tak pernah paham mengapa Mama dan Papa selalu bersikap kasar padanya. Ia hanya mengatakan apa yang ia lihat dan melakukan yang terbaik untuk semua orang. Dan Mama selalu mengancamnya dan menyuruhnya diam. Seperti yang terjadi barusan.

Mira sudah sangat terkesan karena Mama sudi mengajaknya ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air bertubi-tubi, menumpahkan sampo wangi ke rambutnya sampai berbusa-busa, menghandukinya dan memakaian baju putih dengan renda-renda.

Baju pesta yang sedikit kekecilan untuk tubuh Mira yang mulai mekar. Mama menyisir rambutnya dan tak henti-henti mengatakan, “Selama ada tamu, kau harus bersikap manis, tak usah banyak mengoceh ini-itu. Bersikaplah seperti ketika kakekmu datang tempo hari.”

Mama juga mengatakan, “Kita akan menjamu tamu penting, perjamuan makan malam. Ingat, kau hanya perlu duduk dan makan dengan wajar, minum dengan wajar, gunakan sendokmu seperti Mama, minumlah seperti Mama, dan tersenyumlah seperti Mama. Jangan macam-macam.”

Mira terus-terusan mesem sampai Mama mendorong kepalanya, “Kau paham atau tidak dengan apa yang Mama katakan?”

Mira mesem lagi.

Arsip Cerpen di Indonesia